Maritime Info Peraturan Pencegahan tubrukan di laut

P2TL

PERATURAN INTERNASIONAL

UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972

BAGIAN UMUM

ATURAN I

PEMBERLAKUAN

(a). Aturan-aturan ini berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan di semua perairan yang berhubungan dengan laut yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut.

(b). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini yang menghalangi berlakunya peraturan-peraturan khusus yang dibuat oleh penguasa yang berwenang,untuk alur pelayaran ,pelabuhan,sungai , danau atau perairan pedalaman yang berhubungan dengan laut dan dapat dilayari oleh kapal laut.

Aturan-aturan khusus demikian itu harus semirip mungkin dengan aturan-aturan ini.

(c). Tidak ada suatu apapun dari aturan ini yang akan menghalangi berlakunya aturan-aturan khusus yang manapun yang dibuat oleh pemerintah negara manapun berkenaan dengan tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat, sosok benda atau isyarat suling untuk kapal –kapal perang dan kapal-kapal yang berlayar dalam beririnng-iringan atau lampu-lampu isyarat atau sosok-sosok benda untuk kapal-kapal ikan yang sedang menangkap ikan dalam suatu armada.

Tambahan –tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat ,sosok-sosok benda atau isyarat –isyarat suling ini harus dibuat sejauh yang dapat dilaksanakan ,supaya tidak dapat disalah artikan dengan lampu manapun sosok benda atau isyarat yang ditentukan di lain tempat dalam peraturan ini.

(d). Bagan-bagan pemisah lalu lintas dapat disyahkan oleh organisasi untuk maksud aturan-aturan ini.

(e). Manakala pemerintah yang bersangkutan berpendapat bahwa kapal berkonstruksi atau kegunaan khusus tiadak dapat memenuhi ketentuan dari aturan-aturan ini sehubungan dengan jumlah , jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda ,maupun penempatan dari ciri-ciri atau isyarat bunyi ,tanpa menghalangi tugas khusus kapal-kapal itu ,maka kapal yang demikian itu harus memenuhi ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan jumlah ,tempat,jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda manapun yang berhubungan dengan penempatan dan ciri-ciri alat isyarat bunyi sebagaimana ditentukan oleh pemerintahnya yang semirip mungkin dengan aturan-aturan ini,bagi kapal yang bersangkutan.

ATURAN 2

TANGGUNG JAWAB

(a). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini akan membebaskan tiap kapal atau pemiliknya,nakhoda atau awak kapalnya,atas akibat-akibat setiap kelalaian untuk memenuhi aturan-aturan ini atau atas kelalaian terhadap setiap tindakan berjaga-jaga yang dipandang perlu menurut kebiasaan pelaut atau terhadap keadaan-keadaan khusus dimana kapal itu berada.

(b). Dalam menafsirkan dan memenuhi aturan-aturan ini , harus benar-benar memperhatikan semua bahaya navigasi dan bahaya tubrukan serta setiap keadaan khusus termasuk keterbatasan-keterbatasan dari kapal-kapal yang terlibat,yang dapat memaksa menyimpang dari aturan-aturan ini untuk menghindari bahaya mendadak.

ATURAN 3

DEFINISI-DEFINISI UMUM

Untuk maksud atruan-aturan ini kecuali di dalamnya diisyaratkan lain :

(a). Kata “kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air ,termasuk kapal tanpa benaman (displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat diguakan sebagai sarana angkutan di air.

(b). Istilah” kapal tenaga “ berarti setiap kapal yang digerakkan dengan mesin.

(c). Istilah”kapal layar” berarti setiap kapal yang sedang berlayar dengan menggunakan layar, dengan syarat bahwa mesin penggeraknya bila ada sedang tidak digunakan.

(d). Istilah ”kapal yang sedang menagkap ikan” berarti setiap kapal yang menangkap ikan dengan jaring, tali, pukat atau jaring penangkap ikan lainnya yang membatasi kemampuan olah geraknya, tetapi tidak meliputi kapal yang menangkap ikan dengan tali pancing atau alat penangkap ikan lainnya yang tidak membatasi kemampuan mengolah geraknya diair.

(e). Kata ”pesawat terbang laut” mencakup setiap pesawat terbang yang dibuat untuk mengolah gerak di air.

(f). Istilah ”Kapal yang tidak terkendalikan ” berarti kapal yang karena sesuatu keadaan yang istimewa tidak mampu untuk mengolah gerak seperti yang diisyaratkan oleh aturan-aturan ini dan karenanya tidak mampu menyimpangi kapal lain.

(g). Istilah ”kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas” berarti kapal yang karena sifat pekerjaannya mengakibatkan kemampuannya untuk mengolah gerak seperti diisyaratkan oleh aturan-aturan ini menjadi terbatas dan karenanya tidak mampu untuk menyimpangi kapal lain.

Kapal –kapal berikut harus dianggap sebagai kapal-kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas.

Kapal yang digunakan memasang merawat atau mengangkat merkah navigasi atau pipa laut.

Kapal yang melakukan kegiatan pengerukan, penelitian atau pekerjaan-pekerjaan di bawah air.

Kapal yang melakukan pengisian atau memindahkan orang-orang, perbekalan atau muatan pada waktu sedang berlayar.

Kapal yang sedang meluncurkan atau sedang mendaratkan kembali pesawat terbang.

Kapal yang melakukan kegiatan pembersihan ranjau.

Kapal yang menunda sedemikian rupa sehingga menjadikan tidak mampu untung menyimpang dari haluannya.

(h). Istilah “ Kapal yang terkendala oleh saratnya” berati kapal tenaga yang kerena saratnya terhadap kedalaman air dan lebar perairan yang dapat dilayari mengakibatkan kemampuan olah geraknya untuk menyimpang dari garis haluan yang sedang diikuti menjadi terbatas sekali.

(i). Istilah “sedang berlayar“ Berarti kapal tidak berlabuh jangkar atau diikat pada daratan atau kandas.

(j). Kapal-kapal yang harus dianggap melihat satu sama lainnya apabila kapal yang satu dapat dilihat visual oleh kapal lainnya.

(k). Istilah penglihatan terbatas berarti setiap keadaan dalam mana daya tampaknya dibatasi oleh kabut, halimun, hujan salju, hujan badai,badai pasir,atau setiap sebab lain yang serupa dengan itu.

BAGIAN B

ATURAN –ATURAN MENGEMUDIKAN KAPAL DAN MELAYARKAN KAPAL

SEKSI 1

SIKAP KAPAL-KAPAL DALAM SETIAP KEADAAN PENGLIHATAN

ATURAN 4

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam setiap keadaan penglihatan.

ATURAN 5

PENGAMATAN

Tiap kapal harus senantiasa melakukan pengamatan yang layak,baik dengan penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana tersedia yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada sehingga dapat membuat penilaian sepenuhnya terhadap situasi dan bahaya tubrukan.

***Hal – hal yang harus dilakukan pada saat mengadakan pengamatan keliling adalah :

Menjaga kewaspadaan secara terus – menerus dengan penglihatan maupun dengan pendengaran dan juga dengan alat – alat yang lain.

Memperhatikan sepenuhnya situasi dan resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi.

Petugas pengamat harus melaksanakan dengan baik atas tugasnya dan tidak boleh diberikan tugas lain karena dapat mengganggu pelaksanaan pengamatan.

Tugas pengamat dan pemegang kemudi harus terpisah dan tugas kemudi tidak boleh merangkap atau dianggap merangkap tugas pengamatan, kecuali di kapal – kapal kecil dimana pandangan ke segala arah tidak terhalang dari tempat kemudi.

Jika dipandang perlu personel yang melaksanakan tugas jaga ditambah sesuai dengan kondisi yang ada.

Jika kapal menggunakan kemudi otomatis diharapkan selalu mengadakan pengecekan terhadap haluan kapal dalam jangka waktu tertentu.

***Kondisi – kondisi khusus yang harus mendapat prioritas untuk dilaksanakannya pengamatan keliling yang lebih intensif adalah :

Berlayar di daerah yang padat lalu lintas kapalnya.

Berlayar di daerah dekat pantai.

Berlayar di dalam atau di dekat bagan pemisah dan di dalam alur pelayaran sempit.

Berlayar di daerah tampak terbatas.

Berlayar di daerah yang mempunyai banyak bahaya navigasi.

Berlayar pada malam hari.

ATURAN 6

KECEPATAN AMAN

Setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan berhasil untuk menghindari tubrukan dan dapat dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada.dalam menentukan kecepatan aman, faktor-faktor berikut termasuk faktor-faktor yang harus diperhitungkan :

a. Oleh semua kapal :

Tingkat penglihatan ;

Kepadatan lalu lintas termasuk pemusatan kapal-kapal ikan atau kapal lain ;

Kemampuan olah gerak kapal ,khususnya yang berhubungan jarak henti dan kemampuan berputar ;

Pada malam hari, terdapatnya cahaya latar belakang misalanya lampu lampu dari daratan atau pantulan lampu-lampu sendiri ;

Keadaan angin,laut dan arus dan bahaya-bahaya navigasi yang ada disekitarnya;

Sarat sehubungan dengan keadaan air yang ada ;

b. Tambahan bagi kapal kapal yang radarnya dapat bekerja dengan baik

Ciri-ciri effesiensi dan keterbatasan pesawat radar

Setiap kendala yang timbul oleh skala jarak radar yang dipakai;

Pengaruh keadaan laut ,cuaca dan sumber sumber gangguan lain pada penggunaan radar;

Kemungkinan bahwa kapal-kapal kecil ,gunung es dan benda-benda terapung lainnya tidak dapat ditangkap oleh radar pada jarak yang cukup;

Jumlah, posisi dan gerakan kapal-kapal yang ditangkap oleh radar;

Berbagai macam penilaian penglihatan yang lebih tepat yang mungkin dapat bila radar digunakan untuk menentukan jarak kapal-kapal atau benda lain disekitarnya.

ATURAN 7

BAHAYA TUBRUKAN

(a). Semua kapal harus menggunakan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada untuk menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan .Jika timbul keragu-raguan maka bahaya demikian itu harus dianggap ada.

(b). Penggunaan pesawat radar harus dilakukan dengan tepat ,jika dipasang dikapal dan bekerja dengan baik ,termasuk penyimakan jarak jauh untuk memperoleh peringatan dini akan adanya bahaya tubrukan dan pelacakan posisi radar atau pengamatan sistematis yang sepadan atas benda-benda yang terindra.

(c). Praduga-praduga tidak boleh dibuat berdasarkan oleh keterangan yang sangat kurang khususnya keterangan radar.

(d). Dalam menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan ,pertimbangan-pertimbangan berikut ini termasuk pertimbangan-pertimbangan yang harus diperhitungkan.

Bahaya demikian harus dianggap ada jika baringan pedoman kapal yang sedang mendekat tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Bahaya demikain kadang-kadang mungkin ada,walaupun perubahan baringan yang berarti itu nyata sekali ,terutama bilamana sedang menghampiri sebuah kapal dengan jarak yang dekat sekali.

ATURAN 8

TINDAKAN UNTUK MENGHINDARI TUBRUKAN

(a). Setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan ,jika keadaan mengijinkan harus tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar memperhatikan syarat-syarat kepelautan yang baik.

(b). Setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari tubrukan jika keadaan mengizinkan harus cukup besar sehingga segera menjadi jelas bagi kapal lain yang sedang mengamati dengan penglihatan atau dengan radar ,serangkaian prubahan kecil dari haluan dan atau kecepatan hendaknya dihindari.

(c). Jika ada ruang gerak yang cukup perubahan haluan saja mungkin merupakan tindakan yang paling berhasil guna untuk menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat,dengan ketentuan bahwa perubahan itu dilakukan dalam waktu cukup dini ,bersungguh sungguh dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling mendekat terlalu rapat.

(d). Tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan dengan kapal lain harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan pelewatan dengan jarak aman .Hasil guna tindakan itu harus dikaji secara seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya terlewati dan bebas sama sekali.

(e). Jika diperlukan untuk menghindari tubrukan atau untuk memberikan waktu yang lebih banyak untuk menilai keadaan ,kapal harus mengurangi kecepatannya atau menghilangkan kecepatannya sama sekali dengan memberhentikan atau menjalankan mundur sarana penggeraknya.

(f). i. Kapal yang oleh aturan ini diwajibkan tidak boleh merintangi jalan atau jalan aman kapal lainnya,bilamana diwajibkan oleh suatu keadaan harus mengambil tindakan sedini mungkin untuk memberikan untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi jalan kapal orang lainnya.

ii. Kapal yang diwajibkan untuk tidak merintangi jalannya atau jalan aman kapal lain tidak dibebaskan dari kewajiban ini jika mendekati kapal lain mengakibatkan bahaya tubrukan ,dan bilamana akan mengambil tindakan harus memperhatikan tindakan yang diwajibkan oleh aturan-aturan dalam bagian ini.

iii. Kapal yang jalannya tidak boleh dirintangi tetap wajib sepenuhnya untuk melaksanakan aturan-aturan dibagian ini bilamana kedua kapal itu sedang berdekatan satu dengan lainnya yang mengakibatkkan bahaya tubrukan.

ATURAN 9

ALUR-ALUR PELAYARAN SEMPIT

(a). Kapal jika berlayar mengikuti arah alur pelayaran atau air pelayaran sempit harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran yang terletak disis lambung kanannya selama masih aman dan dapat dilaksanakan.

(b). Kapal dengan panjang kurang dari 20 meter atau kapal layar tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang hanya dapat berlayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang berlayar di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(d). Kapal tidak boleh memotong air pelayaran sempit atau alur pelayaran sempit ,jika pemotongan demikian itu menghalangi jalannya kapal yang hanya dapat belayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran demikian itu.

Kapal yang disebut belakangan boleh menggunakan isyarat bunyi yang diatur dalam aturan 34 d jika ragu –ragu mengenai maksud pada kapl yang memotong haluan itu.

(e). i. Dialur atau air pelayaran sempit jika penyusulan dapat dilaksanakan ,hanya kapal yang disusul itu merlakukan tindakan untuk memungkinkan dilewatinya dengan aman,maka kapal yang bermaksud untuk menyusul harus menunjukkan maksudnya dengan membunyikan isyarat yang sesuai diisyaratkan dalam aturan 34(c) (i).Kapal yang disuusl itu jika menyetujui harus mermperdengarkan isyarat sesduai dengan yang ditentukan dalam aturan 34(c) (ii)dan mengambil langkah untuk memungkinkan dilewati dengan aman.Jika ragu-ragu boleh membunyikan isyarat –isyarat yang diatur dalam aturan 13.

ii. Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyusul dari kewajibannya berdasarkan aturan 13.

(f). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah pelayaran atau air pelayaran sempit dimana kapal-kapal lain dapat dikaburkan oleh rintangan yang terletak diantaranya harus berlayar dengan kewaspadaan dan hati-hati dan harus membunyikan isyarat yang sesuai yang diisyaratkan dalam aturan 34(e).

Setiap kapal ,jika keadaan mengijinkan harus menghindarkan diri dari berlabuh jangkar di alur pelayaran sempit.

ATURAN 10

TATA PEMISAHAN LALU LINTAS

(a). Aturan ini berlaku bagi tata pemisahan lalu lintas yang ditrima secara syah oleh organisasi dan tidak membebaskan setiap kapal dari kewajibannya untuk melaksanan aturan lainnya.

(b). Kapal yang sedang menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus :

Berlayar dijalur lalu lintas yang sesuai dengan arah lalu lintas umum untuk jalur itu;

Sedapat mungkin tetap bebas dari garis pemisah atau zona pemisah lalu lintas.

Jalur lalu lintas pada umumnya dimasuki atau ditinggal kan dari ujung jalur ,tetapi bilamana tindakan memasuki maupun meninggalkan jalur itu dilakukan dari salah satu sisi ,tindakan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah sudut yang sekecil-kecilnya terhadap arah lalu lintas umum.

(c).Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari memotong jalur lalu lintas tetapi jika terpaksa melakukannya harus memotong dengan haluan sedapat mungkin tegak lurus terhadap arah lalu lintas umum.

(d). i Kapal yang berada di sekitar tata pemisah lalu lintas tidak boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana ia dapat menggunakan jalur lalu lintas yang sesuai dengan aman. Akan tetapi kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter ,kapal layar dan kapal yang sedang menangkap ikan boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai.

ii Lepas dari sub ayat (d)(i) kapal boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana sedang berlayar menuju atau dari sebuah pelabuhan ,instalasi atau bangunan lepas pantai ,stasion pandu atau setiap tempat yang berlokasi di dalm zona lalu lintas dekat pantai atau untuk menghindari bahaya mendadak.

(e). Kapal kecuali sebuah kapal yang sedang memotong atau kapal-kapal yang sedang memasuki atau sedang meninggalkan jalur ,pada umumnya tidak boleh memasuki zona pemisah atau memotong garis pemisah kecuali :

Dalam keadaan darurat untuk menghindari bahaya mendadak.

Untuk menangkap ikan pada zona pemisah.

(f). Kapal yang sedang berlayar di daerah dekat ujung tata pemisahan lalu lintas harus berlayar sangat hati-hati.

(g). Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari dirinya berlabuh jangkar didalam tata pemisahan lalu lintas atau di daerah-daerah dekat ujung-ujungnya.

(h). Kapal yang tidak menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus menghindarinya dengan ambang batas selebar-lebarnya.

(i). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh merintangi kapal jalan setiapa kapal lain yang sedang mengikuti jalur lalu lintas.

(j). Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter atau kaapl layar tidak boleh merintangi pelayaran aman dari kaapl tenaga yang sedang mengikuti suatu jalur lalu lintas.

(k). Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas apabila sedang tugas untuk memelihara keselamatan pelayaran/navigasi dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

(l). Kapal yang terbatas kemampuan olah geraknya apabila dalam tugas memasang ,merawat atau mengangkat kabel laut dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya

SEKSI II

SIKAP KAPAL DALAM KEADAAN SALING MELIHAT

ATURAN 11

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam keadaan saling melihat.

ATURAN 12

KAPAL LAYAR

a). Bilamana dua kapal layar saling mendekati, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,satu diantarnya harus menghindari yang lain sebagai berikut :

Bilamana masing-masing dapat angin pada lambung yang berlainan maka kapal yang mendapat angin pada lambung kiri harus menghindar kapal lain.

Bilaman keduanya mendapat angin dari lambung yang sama maka kapal yang berada di atas angin harus mengindari kapal yang di bawah angin.

Jika kapal mendapat angin dari lambung yang kiri melihat kapal berada di atas angin dan tidak dapat memastikan apakah kapal lain itu mendapat angin dari lambung kiri atau kanannya ,ia harus menghindari kapal yang lain itu

(b). Untuk mengartikan aturan ini sisi diatas angin ialah sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar utama berada atau dalam hal kapal dengan layar persegi sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar muka belakang yang terbesar di pasang.

ATURAN 13

PENYUSULAN

(a). Lepas dari apapun yang tercantum dalam aturan-aturan bagian B seksi I dan II setiap kapal yang menyusul kapal lain ,harus menyimpangi kapal yang disusul.

(b). Kapal dianggap sedang menyusul ,bilamana mendekat kapal lain dari jurusan lebih dari 22.5 derajat di belakang arah melintang ,ialah dalam kedudukan sedemikain sehingga terhadap kapal yang disusul itu pada malah hari ia dapat melihat hanya penerangan buritan ,tetapi tidak satupun penerangan-penerangan lambungnya.

(c). Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah ia sedang menyusul kapal lain ia harus menganggap bahwa demikain halnya dan bertindak sesuai dengan hal itu.

(d). Setiap perubahan baringan selanjutnya antara kedua kapal itu tidak akan mengakibatkan kapal yang sedang menyusul sebagai kapal yang menyilang,dalam pengertian aturan-aturan ini atau membebaskan dari kewajibannya unutk tetap bebas dari kapal yang sedang di susul itu sampai akhirnya lewat dan bebas.

ATURAN 14

SITUASI BERHADAPAN

(a). Bilamana dua buah kapal tenaga sedang bertemu dengan haluan berhadapan atau hampir berhadapan, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,masing-masing kapal harus berubah haluannya ke kanan sehingga saling berpapasan pada lambung kirinya.

(b). Situasi demikian itu selalu dianggap ada ,bilamana sebuah kapal melihat kapal lain tepat atau hampir tepat di depannya pada malam hari ia dapat melihat penerangan tiang kapal lain segaris atau hampir segaris dan/atau kedua penerangan lambung pada siang hari dengan memperhatikan penyesuaian sudut pandangan dari kapal lain.

(c).Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah situasi demikian itu ada ,ia harus menganggap demikian halnya dan bertindak sesuai dengan keadaan itu.

ATURAN 15

SITUASI BERSILANGAN

Bilamana dua buah kapal tenaga bersilangan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,maka kapal yang disebelah kanannya terdapat kapal lain harus menyimpang dan jika keadaan mengijinkan menghindari memotong di depan kapal lain itu.

ATURAN 16

TINDAKAN KAPAL YANG MENYIMPANG

Setiap kapal yang oleh aturan-aturan ini di wajibkan menyimpangi kapal lain,sepanjang keadaan memungkinkan ,harus mengambil tindakan dengan segera dan nyata untuk dapat bebas dengan baik.

ATURAN 17

TINDAKAN KAPAL YANG BERTAHAN

(a). i. Apabila salah satu dari kedua kapal diharuskan menyimpang ,maka kapal yang lain harus mempertahankan haluan dan kecepatannya.

ii. Bagaimanapun juga ,kapal yang di sebut terakhir ini boleh bertindak untuk menghindari tubrukan dengan olah geraknya sendiri,segera setelah jelas baginya ,bahwa kapal yang diwajibkan menyimpang itu tidak mengambil tindakan yang sesuai dalam memenuhi aturan-aturan ini.

(b).Bilamana oleh sebab apapun, kapal yang diwajibkan mempertahankan haluan dan kecepatannya mengetahui dirinya berada terlalu dekat, sehingga tubrukan tidak terhindari lagi dengan tindakan oleh kapal yang menyimpang itu saja, ia harus mengambil tindakan sedemikain rupa,sehingga merupakan bantuan yang sebaik-baiknya untuk menghindari tubrukan.

(c). Kapal tenaga yang bertindak dalam situasi bersilangan sesuai dengan sub paragraph(a) (ii) aturan ini untuk menghindari tubrukan dengan kapal tenaga yang lain, jika keadaan mengijinkan, tidak boleh merubah haluannya ke kiri untuk kapal yang berada di lambung kirinya.

(d). Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyimpang dari kewajibannya untuk menghindari jalannya kapal lain.

ATURAN-18

TANGGUNG JAWAB ANTAR KAPAL

Kecuali bilamana aturan – aturan 9, 10, dan 13 mensyaratkan lain :

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan ;

Kapal layar.

(b). Kapal layar yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan sedapat mungkin , harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas

(d). i. Setiap kapal, selain dari pada kapal yang tidak terkendalikan atau kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, jika keadaan mengijinkan, harus menghindarkan dirinya merintangi jalan aman sebuah kapal yang terkendala oleh saratnya yang sedang memperlihatkan isyarat-isyarat dalam aturan 28 ;

ii.Kapal yang terkendala oleh saratnya harus berlayar dengan kewaspadaan khusus dengan benar – benar memperhatikan keadaannya yang khusus itu.

(e). Pesawat terbang laut di air, pada umumnya harus tetap benar-benar bebas dari semua kapal dan menghindarkan dirinya merintangi navigasi kapal-kapal itu.

Sekalipun demikian jika ada bahaya tubrukan, pesawat terbang laut itu harus memenuhi aturan – aturan bagian ini.

SEKSI III

SIKAP KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

ATURAN 19

PERILAKU KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

(a). Aturan ini berlaku bagi kapal-kapal yang tidak saling melihat bilamana sedang berlayar disuatu daerah yang berpenglihatan terbatas atau didekatnya.

(b). Setiap kapal harus berjalan dengan kecepatan aman yang disesuaikan dengan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada.

Kapal tenaga harus menyiapkan mesin-mesinnya untuk segera dapat berolah gerak.

(c). Setiap kapal harus benar-benar memperhatikan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada bilamana sedang memenuhi aturan-aturan Seksi I bagian ini.

(d). Kapal yang mengindera kapal lain hanya dengan radar harus menentukan apakah sedang berkembang situasi saling mendekat terlalu rapat dan / atau apakah ada bahaya tubrukan. Jika demikian kapal itu harus melakukan tindakan dalam waktu yang cukup lapang, dengan ketentuan bahwa bilamana tindakan demikian terdiri dari perubahan haluan, maka sejauh mungkin harus dihindari hal-hal berikut :

i. Perubahan haluan kekiri terhadap kapal yang ada didepan arah melintang, selain dari pada kapal yang sedang disusul ;

ii. Perubahan haluan kearah kapal yang ada diarah melintang atau dibelakang arah melintang.

(e). Kecuali apabila telah yakin bahwa tidak ada bahaya tubrukan, setiap kapal yang mendengar isyarat kabut kapal lain yang menurut pertimbangannya berada didepan arah melintangnya, atau yang tidak dapat menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat hingga kapal yang ada didepan arah melintangnya harus mengurangi kecepatannya serendah mungkin yang dengan kecepatan itu kapal tersebut dapat mempertahankan haluannya.

Jika dianggap perlu, kapal itu harus meniadakan kecepatannya sama sekali dan bagaimanapun juga berlayar dengan kewaspadaan khusus hingga bahaya tubrukan telah berlalu.

BAGIAN C

PENERANGAN DAN SOSOK BENDA

ATURAN 20

P E M B E R L A K U A N

(a). Aturan-aturan didalam bagian ini harus dipenuhi dalam segala keadaan cuaca.

(b). Aturan-aturan tentang penerangan-penerangan harus dipenuhi semenjak saat matahari terbenam sampai saat matahari terbit, dan selama jangka waktu tersebut penerangan-penerangan lain tidak boleh diperlihatkan kecuali apabila penerangan-penerangan demikian tidak dapat terkelirukan dengan penerangan-penerangan yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini atau tidak melemahkan daya tampak atau sifat khususnya atau mengganggu terselenggaranya pengamatan yang layak.

(c). Penerangan-penerangan yang ditentukan oleh aturan-aturan ini, jika dipasang harus juga diperlihatkan sejak saat matahari terbit sampai saat matahari terbenam dalam keadaan penglihatan terbatas dan boleh diperlihatkan dalam semua keadaan bilamana dianggap perlu

(d). Aturan-aturan tentang sosok-sosok benda harus dipenuhi pada siang hari.

(e). Penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

ATURAN 21

D E F I N I S I

(a). “ Penerangan tiang “ berarti penerangan putih yang ditempatkan disumbu membujur kapal, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 225º dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dikedua sisi kapal.

(b). “ Penerangan lambung “ berarti penerangan hijau dilambung kanan dan penerangan merah dilambung kiri, masing-masing memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 112,5º dan ditempatkan sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dimasing-masing sisinya.

Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan lambung itu boleh digabungkan dalam satu lentera yang ditempatkan disumbu membujur kapal.

(c). “ Penerangan buritan “ berarti penerangan putih yang ditempatkan sedekat mungkin dengan buritan, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 135º dan dipasang sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya 67,5º dari arah lurus kebelakang dimasing-masing sisi kapal.

(d). “ Penerangan tunda “ berarti penerangan kuning yang mempunyai sifat-sifat khusus yang sama dengan “ Penerangan buritan “ yang didefinisikan didalam paragrap (c).

(e). “ Penerangan kedip “ berarti penerangan yang berkedip-kedip dengan selang waktu teratur dengan frekuensi 120 kedipan atau lebih setiap menit.

(f). “ Penerangan keliling “ berarti penerangan yang memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 360º.

ATURAN 22

JARAK TAMPAK PENERANGAN

Penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan-aturan ini harus mempunyai kuat cahaya sebagaimana yang disebutkan secara terperinci didalam didalam Seksi 8 Lampiran I untuk dapat kelihatan dari jarak-jarak minimum berikut :

(a). Di kapal-kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih :

– Penerangan tiang 6 mil ;

– Penerangan lambung 3 mil ;

– Penerangan buritan 3 mil ;

– Penerangan tunda 3 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 3 mil.

(b). Di kapal-kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 50 meter :

– Penerangan tiang 5 mil, kecuali apabila panjang kapal itu kurang dari 20 meter 3 mil ;

– Penerangan lambung 2 mil

– Penerangan buritan 2 mil

– Penerangan tunda 2 mil

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(c). Di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter :

– Penerangan tiang 2 mil ;

– Penerangan lambung 1 mil ;

– Penerangan buritan 2 mil ;

– Penerangan tunda 2 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(d). Di kapal-kapal yang terbenam sebagian atau benda-banda yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas :

– Penerangan keliling putih 3 mil.

ATURAN 23

KAPAL TENAGA YANG SEDANG BERLAYAR

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan tiang di depan ;

Penerangan tiang kedua di belakang dan lebih tinggi dari pada penerangan tiang depan kecuali kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter, tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan.

(b).Kapal bantalan udara bilamana sedang beroperasi dalam bentuk tanpa berat benaman disamping penerangan-penerangan yang ditentukan di dalam paragrap (a) aturan ini, harus memperlihatkan penerangan keliling kuning kedip.

(c). i. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh memperlihatkan penerangan keliling putih dan penerangan-penerangan lambung.

ii. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 7 meter yang kecepatan meximumnya tidak lebih dari 7 mil setiap jam, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, memperlihatkan penerangan keliling putih dan jika mungkin, harus juga memperlihatkan penerangan-penerangan lambung.

Penerangan tiang atau penerangan keliling putih dikapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter boleh dipindahkan dari sumbu membujur kapal jika pemasangan disumbu membujur tidak dapat dilakukan,dengan ketentuan bahwa penerangan-penerangan lambung digabungkan dalam satu lentera yang harus diperlihatkan disumbu membujur kapal atau ditempatkan sedekat mungkin disumbu membujur yang sama dengan penerangan tiang atau penerangan keliling putih.

ATURAN 24

MENUNDA DAN MENDORONG

(a). Kapal tenaga bilamana sedang menunda, harus memperlihatkan :

Penerangan pengganti peneranganyang ditentukan didalam aturan (23) (a) (i) atau (a) (ii), dua penerangan tiang yang bersusun tegak.

Bilamana panjang tundaan diukur dari buritan kapal yang sedang menunda sampai keujung belakang tundaan lebih dari 200 meter, tiga penerangan yang demikian itu, bersusun tegak lurus ;

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan ;

Penerangan tunda, tegak lurus diatas penerangan buritan ;

Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(b).Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam suatu unit berangkai, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan 23.

(c).Kapal tenaga bilamana sedang mendorong maju atau sedang menggandeng kecuali didalam hal suatu unit berangkai harus memperlihatkan :

i. Sebagai pengganti penerangan yang ditentukan didalam aturan 23 (a) (i) atau (a) (ii) dua penerangan tiang yang bersusun tegak lurus ;

ii. Penerangan-penerangan lambung ;

iii. Penerangan buritan.

(d).Kapal tenaga yang dikenai paragrap (a) atau (c) aturan ini, harus juga memenuhi aturan 23 (a) (ii) .

(e).Kapal atau benda yang sedang ditunda, selain dari pada yang dinyatakan didalam paragrap (g) aturan ini harus memperlihatkan :

i. Penerangan-penerangan lambung ;

ii. Penerangan buritan ;

iii.Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(f).Dengan ketentuan bahwa berapapun jumlah kapal yang sedang digandeng atau didorong dalam suatu kelompok, harus diberi penerangan sebagai satu kapal :

i. Kapal yang sedang didorong maju yang bukan merupakan bagian dari suatu unit berantai, harus memperlihatkan penerangan-penerangan lambung di ujung depan ;

ii. Kapal yang sedang digandeng harus memperlihatkan penerangan buritan dan ujung depan, penerangan-penerangan lambung.

(g) Kapal atau benda yang terbenam sebagian, atau gabungan dari kapal-kapal atau benda-benda demikian yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas, harus memperlihatkan :

Jika lebarnya kurang dari 25 meter, satu penerangan keliling putih diujung depan atau didekatnya dan satu diujung belakang atau didekatnya kecuali apabila naga umbang itu tidak perlu memperlihatkan penerangan diujung depan atau didekatnya ;

Jika lebarnya 25 meter atau lebih, dua penerangan keliling putih tambahan diujung-ujung paling luar dari lebarnya atau didekatnya ;

Jika panjangnya lebih dari 100 meter, penerangan-penerangan keliling putih tambahan diantara penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) dan (ii) sedemikian rupa hingga jarak antara penerangan-penerangan itu tidak boleh lebih dari 100 meter ;

Sosok belah ketupat di atau didekat ujung paling belakang dari kapal atau benda paling belakang yang sedang ditunda dan jika panjang tundaan itu lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya serta ditempatkan sejauh mungkin di depan.

(h). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal atau benda yang sedang ditunda memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (e) atau (g) aturan ini, semua upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menerangi kapal atau benda yang ditunda itu atau setidak-tidaknya menunjukan adanya kapal atau benda demikian itu.

(i). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal yang tidak melakukan operasi-operasi penundaan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (c) aturan ini, maka kapal demikian itu tidak diisyaratkan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan itu bilamana sedang menunda kapal lain dalam bahaya atau dalam keadaan lain yang membutuhkan pertolongan. Segala upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menunjukan sifat hubungan antara kapal yang sedang menunda dan kapal yang sedang ditunda sebagaimana yang diharuskan dan dibolehkan oleh aturan 36 terutama untuk mrnerangi tali tunda.

ATURAN 25

KAPAL LAYAR YANG SEDANG BERLAYAR DAN

KAPAL YANG SEDANG BERLAYAR DENGAN DAYUNG

(a). Kapal layar yang sedang berlayar yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan.

(b). Di kapal layar yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh digabungkan didalam satu lentera yang dipasang dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(c). Kapal layar yang sedang berlayar, disamping penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini boleh memperlihatkan dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang diatas merah dan yang dibawah hijau, tetapi penerangan-penerangan ini tidak boleh diperlihatkan bersama-sama dengan lentera kombinasi yang dibolehkan paragrap (b) aturan ini.

(d). i. Kapal layar yang panjangnya kurang dari 7 meter, jika mungkin harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) aturan ini, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal layar itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang cukup untuk mencegah tubrukan.

ii. Kapal yang sedang berlayar dengan dayung boleh memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan ini bagi kapal-kapal layar, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal yang sedang berlayar dengan dayung itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang memadai untuk mencegah tubrukan.

ATURAN 26

KAPAL IKAN

(a). Kapal yang sedang menangkap ikan, apakah sedang berlayar atau berlabuh jangkar hanya boleh memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan oleh aturan ini.

(b). Kapal yang sedang mendogol, maksudnya sedang menarik pukat tarik atau perkakas lain di dalam air digunakan sebagai alat menangkap ikan, harus memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas hijau dan yang di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegak lurus, kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini boleh memperlihatkan keranjang ;

Penerangan tiang lebih kebelakang dan lebih tinggi dari pada penerangan hijau keliling, kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian itu, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Bilaman mempunyai laju di air, sebagai tambahan atas penerangan- penerangan yang ditentukan dalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan, kecuali yang sedang mendogol harus memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegaklurus, yang di atas merah dan di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegaklurus. Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini, boleh memperlihatkan keranjang ;

Bilamana mana ada alat penangkap ikan yang terjulur mendatar dari kapal lebih dari 150 meter, penerangan putih keliling atau kerucut yang titik puncaknya ke atas diarah alat penangkap ;

Bilamana mempunyai kecepatan di air, disamping penerangan- penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan dekat sekali dengan kapal-kapal lain yang menangkap ikan, boleh memperlihatkan isyarat-isyarat tambahan yang diuraikan dengan jelas didalam Lampiran II Peraturan ini.

(e). Bilamana sedang tidak menangkap ikan tidak boleh memperlihatkan penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan ini tetapi hanya penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang panjangnya sama dengan panjang kapal itu.

ATURAN 27

KAPAL YANG TIDAK TERKENDALIKAN ATAU

YANG KEMAMPUAN OLAH GERAKNYA TERBATAS

(a). Kapal yang tidak terkendalikan harus memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Dua bola atau sosok benda yang serupa, bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Bilamana mempunyai laju di air sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan.

(b).Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kecuali kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, harus memperlihatkan :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang tengah harus putih ;

Tiga sosok benda bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya. Sosok benda yang tertinggi dan yang terendah harus bola, sedangkan yang di tengah sosok belah ketupat ;

Bilamana mempunyai laju di air, penerangan atau penerangan-penerangan tiang, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) ;

Bilamana berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam sub paragrap (i) dan (ii) penerangan, penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30.

(c). Kapal tenaga yang sedang melaksanakan pekerjaan penundaan sedemikian rupa sehingga sangat membatasi kemampuan kapal yang sedang menunda dan tundaannya itu menyimpang dari haluannya yang ditentukan di dalam Aturan 24 (a) harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam sub paragrap (b) (i) dan (ii) Aturan ini.

(d). Kapal yang sedang melaksanakan pengerukan atau pekerjaan di dalam air, bilamana kemampuan olah geraknya terbatas, harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam su paragrap (b) (i), (ii) dan (iii) Aturan ini dan sebagai tambahan bilamana ada rintangan ,harus memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling atau dua bola bersusun tegak lurus untuk menunjukkan sisi tempat rintangan itu berada ;

Dua penerangan hijau keliling atau dua sosok belah ketupat bersusun tegak lurus untuk menunjukan sisi yang boleh dilewati kapal lain ;

Bilaman berlabuh jangkar, penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap ini sebagai ganti penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan 30.

(e) Bilaman ukuran kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan penyelaman itu membuatnya tidak mampu memperlihatkan semua penerangan dan sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap (d) Aturan ini, harus diperlihatkan yang berikut ini :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus dis suatu tempat yang diperlihatkan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang di tengah harus putih ;

Tiruan bendera kaku “A” dari Kode Internasional yang tingginya tidak kurang dari 1 meter. Langkah-langkah harus dilakukan untuk menjamin agar tiruan itu dapat kelihatan keliling.

(f). Kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal tenaga di dalam Aturan 23 atau atas penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang sedang berlabuh jangkar di dalam Aturan 30,mana yang sesuai harus memperlihatkan tiga penerangan hijau keliling atau tiga bola. Salah atu dari penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda ini harus diperlihatkan di puncak tiang depan atau di dekatnya dan satu dimasing-masing ujung andang-andang depan. Penerangan-penerangan atau sosok benda ini menunjukan bahwa berbahayalah kapal lain yang mendekat dalam jarak 1000 meter dari pembersih ranjau itu.

(g). Kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, kecuali kapal-kapal yang sedang menjalankan pekerjaan penyelaman, tidak wajib memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan ini.

(h). Isyarat-isyarat yang yang ditentukan di dalam Aturan ini bukan isyarat-isyarat dari kapal-kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan. Isyarat-isyarat demikian tercantum di dalam Lampiran IV Peraturan ini.

ATURAN 28

KAPAL YANG TERKENDALA OLEH SARATNYA

Kapal yang terkendala oleh saratnya, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal-kapal tenaga didalam Aturan 23, boleh memperlihatkan tiga penerangan merah keliling bersusun tegak lurus, atau sebuah silinder di tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

ATURAN 29

KAPAL PANDU

(a). Kapal yang sedang bertugas memandu harus memperlihatkan :

Di puncak tiang atau di dekatnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas putih dan yang di bawah merah ;

Bilamana sedang berlayar, sebagai tambahan, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan ;

Bilaman berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30 bagi kapal-kapal yang berlabuh jangkar.

(b). Kapal pandu bilaman tidak sedang bertugas memandu harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang serupa sesuai dengan panjangnya.

ATURAN 30

KAPAL YANG BERLABUH JANGKAR DAN KAPAL YANG KANDAS

(a). Kapal yang berlabuh jangkar harus memperlihatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya :

Di bagian depan, penerangan putih keliling atau satu bola ;

Di buritan atau di dekatnya dan di suatu ketinggian yang lebih rendah dari pada penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), sebuah penerangan putih keliling.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 50 meterboleh memperlihatkan sebuah penerangan putih keliling di suatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini.

(c). Kapal yang berlabuh jangkar boleh juga menggunakan penerangan-penerangan kerja atau penerangan-penerangan yang sepadan yang ada di kapal untuk menerangi geladak-geladaknya, sedangkan kapal yang panjangnya 100 meter ke atas harus memperlihatkan penerangan-penerangan demikian itu.

(d). Kapal yang kandas harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini dan sebagai tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya :

Dua penerangan merah bersusun tegak lurus ;

Tiga bola bersusun tegak lurus.

(e). Kapal yang panjangnya kurang dari 7 meter bilamana berlabuh jangkar, tidak didalam atau didekat alur pelayaran sempit, air pelayaran atau tempat berlabuh jangkar, atau tempat yang biasa dilayari oleh kapal-kapal lain, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (a) dan (b) Aturan ini.

(f). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, bilamana kandas, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam su paragrap (d) (i) dan (ii) Aturan ini.

ATURAN 31

PESAWAT TERBANG LAUT

Apabila pesawat terbang laut tidak mampu memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda dengan sifat-sifat atau kedudukan-kedudukan yang ditentukan didalam aturan-aturan bagian ini, pesawat terbang laut itu harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benba yang sifat-sifat dan kedudukan-kedudukannya semirip mungkin dengan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda.

BAGIAN D

ISYARAT BUNYI DAN ISYARAT CAHAYA

ATURAN 32

D E F I N I S I

(a). Kata “ suling “ berarti alat isyarat bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan yang ditentukan dan yang memenuhi perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan-peraturan ini.

(b). Istilah “ tiup pendek “ berarti tiupan yang lamanya kira-kira satu detik ;

(c). Istilah “ tiup panjang “ berarti tiupan yang lamanya 4 sampai 6 detik.

ATURAN 33

PERLENGKAPAN UNTUK ISYARAT BUNYI

(a). Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih harus dilengkapi dengan suling dan genta serta kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih sebagai tambahan, harus dilengkapi dengan gong yang nada dan bunyinya tidak dapat terkacaukan dengan nada dan bunyi genta. Suling, genta dan gong itu harus memenuhi, perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan ini.

Genta atau gong atau kedua-duanya boleh diganti dengan perlengkapan lain yang mempunyai sifat-sifat khas yang sama dengan bunyi masing-masing, dengan ketentuan bahwa alat-alat isyatar yang ditentukan itu harus selalu mungkin dibunyikan dengan tangan.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memasang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini, tetapi jika tidak memasangnya, kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang menghasilkan isyarat bunyi yang efisien.

ATURAN 34

ISYARAT OLAH GERAK DAN ISYARAT PERINGATAN

(a). Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling melihat, kapal tenaga yang sedang berlayar, bilamana sedang berolah gerak sesuai dengan yang diharuskan atau dibolehkan atau disyaratkan oleh Aturan-aturan ini, harus menunjukan olah gerak tersebut dengan isyarat-isyarat berikut dengan menggunakan sulingnya :

– Satu tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekanan “ ;

– Dua tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekiri “ ;

– Tiga tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “.

(b). Setiap kapal boleh menambah isyarat-isyarat suling yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini dengan isyarat-isyarat cahaya, diulang-ulang seperlunya sementara olah gerak sedang dilakukan :

Isyarat-isyarat cahaya ini harus mempunyai arti berikut :

Satu kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekanan “ ;

Dua kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekiri “ ;

Tiga kedip untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “ ;

Lamanya masing-masing kedip harus kira-kira satu detik, selang waktu antara kedip-kedip itu harus kira-kira satu detik, serta selang waktu antara isyarat-isyarat beruntun tidak boleh kurang dari 20 detik ;

Penerangan yang digunakan untuk isyarat ini jika dipasang, harus penerangan putih keliling, dapat kelihatan dari jarak minimum 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

(c). Bilamana dalam keadaan saling melihat dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit :

Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal lain, sesuai dengan Aturan 9 (e) (i) harus menyatakan maksudnya itu dengan isyarat berikut dengan sulingnya :

– Dua tiup panjang diikuti satu tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kanan anda “ ;

– Dua tiup panjang diikuti dua tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kiri anda “.

Kapal yang sedang siap untuk disusul itu bilamana sedang melakukan tindakan sesuai dengan Aturan 9 (e) (i), harus menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat dengan sulingnya :

-Satu tiup panjang, satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek dengan tata urutan tersebut.

(d). Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan saling melihat sedang saling mendekat dan karena suatu sebab, apakah salah satu dari kapal-kapal itu atau kedua-duanya tidak berhasil memahami maksud-maksud atau tindakan-tindakan kapal yang lain atau dalam keadaan ragu-ragu apakah kapal yang lain sedang melakukan tindakan yang memadai untuk menghindari tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu harus segera menyatakan keragu-raguan demikian dengan memperdengarkan sekurang-kurangnya 5 tiup pendek dan cepat dengan suling. Isyarat demikian boleh ditambah dengan isyarat cahaya yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip, pendek dan cepat.

(e). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur pelayaran atau air pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain dapat terhalang oleh alingan, harus memperdengarkan satu tiup panjang.

Isyarat demikian itu harus disambut dengan tiup panjang oleh setiap kapal yang sedang mendekat yang sekiranya ada didalam jarak dengar disekitar tikungan atau dibalik alingan itu.

(f). Jika suling-suling dipasang di kapal secara terpisah dengan jarak lebih dari 100 meter, hanya satu suling saja yang harus digunakan untuk memberikan isyarat olah gerak dan isyarat peringatan.

ATURAN 35

ISYARAT BUNYI DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

Didalam atau didekat daerah yang berpenglihatan terbatas baik pada siang hari atau pada malam hari, isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Aturan ini harus digunakan sebagai berikut :

(a). Kapal tenaga yang mempunyai laju di air memperdengarkan satu tiup panjang dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(b). Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi berhenti dan tidak mempunyai laju di air harus memperdengarkan dua tiup panjang beruntun dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit dan selang waktu tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.

(c). Kapal yang tidak terkendalikan, kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kapal yang terkendala oleh saratnya, kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan dan kapal yang sedang menunda atau mendorong kapal lain sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini harus memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup panjang diikuti oleh dua tiup pendek dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana berlabuh jangkar dan kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas bilamana sedang menjalankan pekerjaannya dalam keadaan berlabuh jangkar, sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan dadalam paragrap (c) Aturan ini.

(e). Kapal yang ditunda atau jika yang kapal ditunda itu lebih dari satu, maka kapal yang paling belakang dari tundaanitu jika diawaki, harus memperdengarkan 4 tiup beruntun, yakni 1 tiup panjang diikuti 3 tiup pendek, dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit. Bilamana mungkin, isyarat ini harus diperdengarkan oleh kapal yang menunda.

(f). Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam kesatuan gabungan, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan harus memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini.

(g). Kapal yang berlabuh jangkar harus membunyikan genta dengan cepat selama kira-kira 5 detik dengan selang waktu tidak lebih dari 1 menit.

Di kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih genta itu harus dibunyikan dibagian depan kapal dan segera setelah pembunyian genta, gong harus dibunyikan cepat-cepat selama kira-kira 5 detik dibagian belakang kapal.

Kapal yang berlabuh jangkar, sebagai tambahan boleh memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek untuk mengingatkan kapal lain yang mendekat mengenai kedudukannya dan adanya kemungkinan tubrukan.

(h). Kapal yang kandas harus memperdengarkan isyarat genta dan jika dipersyaratkan, isyarat gong yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, dan sebagai tambahan harus memperdengarkan tiga ketukan terpisah dan jelas dengan genta sesaat sebelum dan segera setelah pembunyian genta yang cepat itu. Kapal yang kandas, sebagai tambahan boleh memperdengarkan isyarat suling yang sesuai.

(i). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memperdengarkan isyarat-isyarat tersebut diatas, tetapi jika tidak memperdengarkannya, kapal itu harus memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(j). Kapal pandu bilamana sedang bertugas memandu, sebagai tambahan atas isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragraph (a), (b) atau (g) Aturan ini boleh memperdengarkannya isyarat pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek.

ATURAN 36

ISYARAT UNTUK MENARIK PERHATIAN

Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain, setiap kapal boleh menggunakan isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak dapat terkelirukan dengan setiap isyarat yang diharuskan atau dibenarkan dimanapun didalam Aturan ini, atau boleh mengarahkan berkas cahaya lampu kejurusan manapun. Sembarang cahaya yang digunakan untuk menarik perhatian kapal lain harus sedemikian rupa sehingga tidak dapat terkelirukan dengan alat bantu navigasi manapun. Untuk memenuhi maksud Aturan ini penggunaan penerangan berselang-selang atau penerangan berputar dengan intensitas tinggi, misalnya penerangan-penerangan stroba, harus dihindarkan.

ATURAN 37

ISYARAT BAHAYA

Bilaman kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan, kapal itu harus menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Lampiran IV Peraturan ini.

BAGIAN E

PEMBEBASAN – PEMBEBASAN

ATURAN 38

P E M B E B A S A N

Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi syarat-syarat Peraturan internasional tentang pencegahan tubrukan di laut 1960 yang lunasnya diletakkan sebelum peraturan ini berlaku atau yang pada tanggal itu dalam tahapan pembangunan yang sesuai, dibebaskan dari kewajiban untuk memenuhi Peraturan ini sebagai berikut :

(a). Pemasangan penerangan-penerangan dengan jarak yang ditentukan didalam Aturan 22, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya aturan ini.

(b). Pemasangan penerangan-penerangan dengan perincian warna sebagaimana yang ditentukan didalam seksi 7 Lampiran I Aturan ini, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan.

(c). Penempatan kembali penerangan-penerangan sebagai akibat dari pengubahan satuan-satuan imperial kesatuan-satuan metrik dan pembulatan angka-angka ukuran, merupakan pembebasan tetap.

(d). i. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 150 meter sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini merupakan pembebasan tetap.

ii. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya 150 meter atau lebih sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.

(e). Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(f). Penempatan kembali penerangan-penerangan lambung, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (g) dan 3 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(g). Syarat-syarat tentang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam Lampiran III Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(h). Penempatan kembali penerangan-penerangan keliling, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 9 (b) Lampiran I Peraturan ini, merupakan pembebasan tetap.

Maritime Info Peraturan Pencegahan tubrukan di laut

P2TL

PERATURAN INTERNASIONAL

UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972

BAGIAN UMUM

ATURAN I

PEMBERLAKUAN

(a). Aturan-aturan ini berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan di semua perairan yang berhubungan dengan laut yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut.

(b). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini yang menghalangi berlakunya peraturan-peraturan khusus yang dibuat oleh penguasa yang berwenang,untuk alur pelayaran ,pelabuhan,sungai , danau atau perairan pedalaman yang berhubungan dengan laut dan dapat dilayari oleh kapal laut.

Aturan-aturan khusus demikian itu harus semirip mungkin dengan aturan-aturan ini.

(c). Tidak ada suatu apapun dari aturan ini yang akan menghalangi berlakunya aturan-aturan khusus yang manapun yang dibuat oleh pemerintah negara manapun berkenaan dengan tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat, sosok benda atau isyarat suling untuk kapal –kapal perang dan kapal-kapal yang berlayar dalam beririnng-iringan atau lampu-lampu isyarat atau sosok-sosok benda untuk kapal-kapal ikan yang sedang menangkap ikan dalam suatu armada.

Tambahan –tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat ,sosok-sosok benda atau isyarat –isyarat suling ini harus dibuat sejauh yang dapat dilaksanakan ,supaya tidak dapat disalah artikan dengan lampu manapun sosok benda atau isyarat yang ditentukan di lain tempat dalam peraturan ini.

(d). Bagan-bagan pemisah lalu lintas dapat disyahkan oleh organisasi untuk maksud aturan-aturan ini.

(e). Manakala pemerintah yang bersangkutan berpendapat bahwa kapal berkonstruksi atau kegunaan khusus tiadak dapat memenuhi ketentuan dari aturan-aturan ini sehubungan dengan jumlah , jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda ,maupun penempatan dari ciri-ciri atau isyarat bunyi ,tanpa menghalangi tugas khusus kapal-kapal itu ,maka kapal yang demikian itu harus memenuhi ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan jumlah ,tempat,jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda manapun yang berhubungan dengan penempatan dan ciri-ciri alat isyarat bunyi sebagaimana ditentukan oleh pemerintahnya yang semirip mungkin dengan aturan-aturan ini,bagi kapal yang bersangkutan.

ATURAN 2

TANGGUNG JAWAB

(a). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini akan membebaskan tiap kapal atau pemiliknya,nakhoda atau awak kapalnya,atas akibat-akibat setiap kelalaian untuk memenuhi aturan-aturan ini atau atas kelalaian terhadap setiap tindakan berjaga-jaga yang dipandang perlu menurut kebiasaan pelaut atau terhadap keadaan-keadaan khusus dimana kapal itu berada.

(b). Dalam menafsirkan dan memenuhi aturan-aturan ini , harus benar-benar memperhatikan semua bahaya navigasi dan bahaya tubrukan serta setiap keadaan khusus termasuk keterbatasan-keterbatasan dari kapal-kapal yang terlibat,yang dapat memaksa menyimpang dari aturan-aturan ini untuk menghindari bahaya mendadak.

ATURAN 3

DEFINISI-DEFINISI UMUM

Untuk maksud atruan-aturan ini kecuali di dalamnya diisyaratkan lain :

(a). Kata “kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air ,termasuk kapal tanpa benaman (displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat diguakan sebagai sarana angkutan di air.

(b). Istilah” kapal tenaga “ berarti setiap kapal yang digerakkan dengan mesin.

(c). Istilah”kapal layar” berarti setiap kapal yang sedang berlayar dengan menggunakan layar, dengan syarat bahwa mesin penggeraknya bila ada sedang tidak digunakan.

(d). Istilah ”kapal yang sedang menagkap ikan” berarti setiap kapal yang menangkap ikan dengan jaring, tali, pukat atau jaring penangkap ikan lainnya yang membatasi kemampuan olah geraknya, tetapi tidak meliputi kapal yang menangkap ikan dengan tali pancing atau alat penangkap ikan lainnya yang tidak membatasi kemampuan mengolah geraknya diair.

(e). Kata ”pesawat terbang laut” mencakup setiap pesawat terbang yang dibuat untuk mengolah gerak di air.

(f). Istilah ”Kapal yang tidak terkendalikan ” berarti kapal yang karena sesuatu keadaan yang istimewa tidak mampu untuk mengolah gerak seperti yang diisyaratkan oleh aturan-aturan ini dan karenanya tidak mampu menyimpangi kapal lain.

(g). Istilah ”kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas” berarti kapal yang karena sifat pekerjaannya mengakibatkan kemampuannya untuk mengolah gerak seperti diisyaratkan oleh aturan-aturan ini menjadi terbatas dan karenanya tidak mampu untuk menyimpangi kapal lain.

Kapal –kapal berikut harus dianggap sebagai kapal-kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas.

Kapal yang digunakan memasang merawat atau mengangkat merkah navigasi atau pipa laut.

Kapal yang melakukan kegiatan pengerukan, penelitian atau pekerjaan-pekerjaan di bawah air.

Kapal yang melakukan pengisian atau memindahkan orang-orang, perbekalan atau muatan pada waktu sedang berlayar.

Kapal yang sedang meluncurkan atau sedang mendaratkan kembali pesawat terbang.

Kapal yang melakukan kegiatan pembersihan ranjau.

Kapal yang menunda sedemikian rupa sehingga menjadikan tidak mampu untung menyimpang dari haluannya.

(h). Istilah “ Kapal yang terkendala oleh saratnya” berati kapal tenaga yang kerena saratnya terhadap kedalaman air dan lebar perairan yang dapat dilayari mengakibatkan kemampuan olah geraknya untuk menyimpang dari garis haluan yang sedang diikuti menjadi terbatas sekali.

(i). Istilah “sedang berlayar“ Berarti kapal tidak berlabuh jangkar atau diikat pada daratan atau kandas.

(j). Kapal-kapal yang harus dianggap melihat satu sama lainnya apabila kapal yang satu dapat dilihat visual oleh kapal lainnya.

(k). Istilah penglihatan terbatas berarti setiap keadaan dalam mana daya tampaknya dibatasi oleh kabut, halimun, hujan salju, hujan badai,badai pasir,atau setiap sebab lain yang serupa dengan itu.

BAGIAN B

ATURAN –ATURAN MENGEMUDIKAN KAPAL DAN MELAYARKAN KAPAL

SEKSI 1

SIKAP KAPAL-KAPAL DALAM SETIAP KEADAAN PENGLIHATAN

ATURAN 4

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam setiap keadaan penglihatan.

ATURAN 5

PENGAMATAN

Tiap kapal harus senantiasa melakukan pengamatan yang layak,baik dengan penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana tersedia yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada sehingga dapat membuat penilaian sepenuhnya terhadap situasi dan bahaya tubrukan.

***Hal – hal yang harus dilakukan pada saat mengadakan pengamatan keliling adalah :

Menjaga kewaspadaan secara terus – menerus dengan penglihatan maupun dengan pendengaran dan juga dengan alat – alat yang lain.

Memperhatikan sepenuhnya situasi dan resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi.

Petugas pengamat harus melaksanakan dengan baik atas tugasnya dan tidak boleh diberikan tugas lain karena dapat mengganggu pelaksanaan pengamatan.

Tugas pengamat dan pemegang kemudi harus terpisah dan tugas kemudi tidak boleh merangkap atau dianggap merangkap tugas pengamatan, kecuali di kapal – kapal kecil dimana pandangan ke segala arah tidak terhalang dari tempat kemudi.

Jika dipandang perlu personel yang melaksanakan tugas jaga ditambah sesuai dengan kondisi yang ada.

Jika kapal menggunakan kemudi otomatis diharapkan selalu mengadakan pengecekan terhadap haluan kapal dalam jangka waktu tertentu.

***Kondisi – kondisi khusus yang harus mendapat prioritas untuk dilaksanakannya pengamatan keliling yang lebih intensif adalah :

Berlayar di daerah yang padat lalu lintas kapalnya.

Berlayar di daerah dekat pantai.

Berlayar di dalam atau di dekat bagan pemisah dan di dalam alur pelayaran sempit.

Berlayar di daerah tampak terbatas.

Berlayar di daerah yang mempunyai banyak bahaya navigasi.

Berlayar pada malam hari.

ATURAN 6

KECEPATAN AMAN

Setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan berhasil untuk menghindari tubrukan dan dapat dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada.dalam menentukan kecepatan aman, faktor-faktor berikut termasuk faktor-faktor yang harus diperhitungkan :

a. Oleh semua kapal :

Tingkat penglihatan ;

Kepadatan lalu lintas termasuk pemusatan kapal-kapal ikan atau kapal lain ;

Kemampuan olah gerak kapal ,khususnya yang berhubungan jarak henti dan kemampuan berputar ;

Pada malam hari, terdapatnya cahaya latar belakang misalanya lampu lampu dari daratan atau pantulan lampu-lampu sendiri ;

Keadaan angin,laut dan arus dan bahaya-bahaya navigasi yang ada disekitarnya;

Sarat sehubungan dengan keadaan air yang ada ;

b. Tambahan bagi kapal kapal yang radarnya dapat bekerja dengan baik

Ciri-ciri effesiensi dan keterbatasan pesawat radar

Setiap kendala yang timbul oleh skala jarak radar yang dipakai;

Pengaruh keadaan laut ,cuaca dan sumber sumber gangguan lain pada penggunaan radar;

Kemungkinan bahwa kapal-kapal kecil ,gunung es dan benda-benda terapung lainnya tidak dapat ditangkap oleh radar pada jarak yang cukup;

Jumlah, posisi dan gerakan kapal-kapal yang ditangkap oleh radar;

Berbagai macam penilaian penglihatan yang lebih tepat yang mungkin dapat bila radar digunakan untuk menentukan jarak kapal-kapal atau benda lain disekitarnya.

ATURAN 7

BAHAYA TUBRUKAN

(a). Semua kapal harus menggunakan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada untuk menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan .Jika timbul keragu-raguan maka bahaya demikian itu harus dianggap ada.

(b). Penggunaan pesawat radar harus dilakukan dengan tepat ,jika dipasang dikapal dan bekerja dengan baik ,termasuk penyimakan jarak jauh untuk memperoleh peringatan dini akan adanya bahaya tubrukan dan pelacakan posisi radar atau pengamatan sistematis yang sepadan atas benda-benda yang terindra.

(c). Praduga-praduga tidak boleh dibuat berdasarkan oleh keterangan yang sangat kurang khususnya keterangan radar.

(d). Dalam menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan ,pertimbangan-pertimbangan berikut ini termasuk pertimbangan-pertimbangan yang harus diperhitungkan.

Bahaya demikian harus dianggap ada jika baringan pedoman kapal yang sedang mendekat tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Bahaya demikain kadang-kadang mungkin ada,walaupun perubahan baringan yang berarti itu nyata sekali ,terutama bilamana sedang menghampiri sebuah kapal dengan jarak yang dekat sekali.

ATURAN 8

TINDAKAN UNTUK MENGHINDARI TUBRUKAN

(a). Setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan ,jika keadaan mengijinkan harus tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar memperhatikan syarat-syarat kepelautan yang baik.

(b). Setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari tubrukan jika keadaan mengizinkan harus cukup besar sehingga segera menjadi jelas bagi kapal lain yang sedang mengamati dengan penglihatan atau dengan radar ,serangkaian prubahan kecil dari haluan dan atau kecepatan hendaknya dihindari.

(c). Jika ada ruang gerak yang cukup perubahan haluan saja mungkin merupakan tindakan yang paling berhasil guna untuk menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat,dengan ketentuan bahwa perubahan itu dilakukan dalam waktu cukup dini ,bersungguh sungguh dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling mendekat terlalu rapat.

(d). Tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan dengan kapal lain harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan pelewatan dengan jarak aman .Hasil guna tindakan itu harus dikaji secara seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya terlewati dan bebas sama sekali.

(e). Jika diperlukan untuk menghindari tubrukan atau untuk memberikan waktu yang lebih banyak untuk menilai keadaan ,kapal harus mengurangi kecepatannya atau menghilangkan kecepatannya sama sekali dengan memberhentikan atau menjalankan mundur sarana penggeraknya.

(f). i. Kapal yang oleh aturan ini diwajibkan tidak boleh merintangi jalan atau jalan aman kapal lainnya,bilamana diwajibkan oleh suatu keadaan harus mengambil tindakan sedini mungkin untuk memberikan untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi jalan kapal orang lainnya.

ii. Kapal yang diwajibkan untuk tidak merintangi jalannya atau jalan aman kapal lain tidak dibebaskan dari kewajiban ini jika mendekati kapal lain mengakibatkan bahaya tubrukan ,dan bilamana akan mengambil tindakan harus memperhatikan tindakan yang diwajibkan oleh aturan-aturan dalam bagian ini.

iii. Kapal yang jalannya tidak boleh dirintangi tetap wajib sepenuhnya untuk melaksanakan aturan-aturan dibagian ini bilamana kedua kapal itu sedang berdekatan satu dengan lainnya yang mengakibatkkan bahaya tubrukan.

ATURAN 9

ALUR-ALUR PELAYARAN SEMPIT

(a). Kapal jika berlayar mengikuti arah alur pelayaran atau air pelayaran sempit harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran yang terletak disis lambung kanannya selama masih aman dan dapat dilaksanakan.

(b). Kapal dengan panjang kurang dari 20 meter atau kapal layar tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang hanya dapat berlayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang berlayar di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(d). Kapal tidak boleh memotong air pelayaran sempit atau alur pelayaran sempit ,jika pemotongan demikian itu menghalangi jalannya kapal yang hanya dapat belayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran demikian itu.

Kapal yang disebut belakangan boleh menggunakan isyarat bunyi yang diatur dalam aturan 34 d jika ragu –ragu mengenai maksud pada kapl yang memotong haluan itu.

(e). i. Dialur atau air pelayaran sempit jika penyusulan dapat dilaksanakan ,hanya kapal yang disusul itu merlakukan tindakan untuk memungkinkan dilewatinya dengan aman,maka kapal yang bermaksud untuk menyusul harus menunjukkan maksudnya dengan membunyikan isyarat yang sesuai diisyaratkan dalam aturan 34(c) (i).Kapal yang disuusl itu jika menyetujui harus mermperdengarkan isyarat sesduai dengan yang ditentukan dalam aturan 34(c) (ii)dan mengambil langkah untuk memungkinkan dilewati dengan aman.Jika ragu-ragu boleh membunyikan isyarat –isyarat yang diatur dalam aturan 13.

ii. Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyusul dari kewajibannya berdasarkan aturan 13.

(f). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah pelayaran atau air pelayaran sempit dimana kapal-kapal lain dapat dikaburkan oleh rintangan yang terletak diantaranya harus berlayar dengan kewaspadaan dan hati-hati dan harus membunyikan isyarat yang sesuai yang diisyaratkan dalam aturan 34(e).

Setiap kapal ,jika keadaan mengijinkan harus menghindarkan diri dari berlabuh jangkar di alur pelayaran sempit.

ATURAN 10

TATA PEMISAHAN LALU LINTAS

(a). Aturan ini berlaku bagi tata pemisahan lalu lintas yang ditrima secara syah oleh organisasi dan tidak membebaskan setiap kapal dari kewajibannya untuk melaksanan aturan lainnya.

(b). Kapal yang sedang menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus :

Berlayar dijalur lalu lintas yang sesuai dengan arah lalu lintas umum untuk jalur itu;

Sedapat mungkin tetap bebas dari garis pemisah atau zona pemisah lalu lintas.

Jalur lalu lintas pada umumnya dimasuki atau ditinggal kan dari ujung jalur ,tetapi bilamana tindakan memasuki maupun meninggalkan jalur itu dilakukan dari salah satu sisi ,tindakan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah sudut yang sekecil-kecilnya terhadap arah lalu lintas umum.

(c).Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari memotong jalur lalu lintas tetapi jika terpaksa melakukannya harus memotong dengan haluan sedapat mungkin tegak lurus terhadap arah lalu lintas umum.

(d). i Kapal yang berada di sekitar tata pemisah lalu lintas tidak boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana ia dapat menggunakan jalur lalu lintas yang sesuai dengan aman. Akan tetapi kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter ,kapal layar dan kapal yang sedang menangkap ikan boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai.

ii Lepas dari sub ayat (d)(i) kapal boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana sedang berlayar menuju atau dari sebuah pelabuhan ,instalasi atau bangunan lepas pantai ,stasion pandu atau setiap tempat yang berlokasi di dalm zona lalu lintas dekat pantai atau untuk menghindari bahaya mendadak.

(e). Kapal kecuali sebuah kapal yang sedang memotong atau kapal-kapal yang sedang memasuki atau sedang meninggalkan jalur ,pada umumnya tidak boleh memasuki zona pemisah atau memotong garis pemisah kecuali :

Dalam keadaan darurat untuk menghindari bahaya mendadak.

Untuk menangkap ikan pada zona pemisah.

(f). Kapal yang sedang berlayar di daerah dekat ujung tata pemisahan lalu lintas harus berlayar sangat hati-hati.

(g). Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari dirinya berlabuh jangkar didalam tata pemisahan lalu lintas atau di daerah-daerah dekat ujung-ujungnya.

(h). Kapal yang tidak menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus menghindarinya dengan ambang batas selebar-lebarnya.

(i). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh merintangi kapal jalan setiapa kapal lain yang sedang mengikuti jalur lalu lintas.

(j). Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter atau kaapl layar tidak boleh merintangi pelayaran aman dari kaapl tenaga yang sedang mengikuti suatu jalur lalu lintas.

(k). Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas apabila sedang tugas untuk memelihara keselamatan pelayaran/navigasi dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

(l). Kapal yang terbatas kemampuan olah geraknya apabila dalam tugas memasang ,merawat atau mengangkat kabel laut dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya

SEKSI II

SIKAP KAPAL DALAM KEADAAN SALING MELIHAT

ATURAN 11

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam keadaan saling melihat.

ATURAN 12

KAPAL LAYAR

a). Bilamana dua kapal layar saling mendekati, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,satu diantarnya harus menghindari yang lain sebagai berikut :

Bilamana masing-masing dapat angin pada lambung yang berlainan maka kapal yang mendapat angin pada lambung kiri harus menghindar kapal lain.

Bilaman keduanya mendapat angin dari lambung yang sama maka kapal yang berada di atas angin harus mengindari kapal yang di bawah angin.

Jika kapal mendapat angin dari lambung yang kiri melihat kapal berada di atas angin dan tidak dapat memastikan apakah kapal lain itu mendapat angin dari lambung kiri atau kanannya ,ia harus menghindari kapal yang lain itu

(b). Untuk mengartikan aturan ini sisi diatas angin ialah sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar utama berada atau dalam hal kapal dengan layar persegi sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar muka belakang yang terbesar di pasang.

ATURAN 13

PENYUSULAN

(a). Lepas dari apapun yang tercantum dalam aturan-aturan bagian B seksi I dan II setiap kapal yang menyusul kapal lain ,harus menyimpangi kapal yang disusul.

(b). Kapal dianggap sedang menyusul ,bilamana mendekat kapal lain dari jurusan lebih dari 22.5 derajat di belakang arah melintang ,ialah dalam kedudukan sedemikain sehingga terhadap kapal yang disusul itu pada malah hari ia dapat melihat hanya penerangan buritan ,tetapi tidak satupun penerangan-penerangan lambungnya.

(c). Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah ia sedang menyusul kapal lain ia harus menganggap bahwa demikain halnya dan bertindak sesuai dengan hal itu.

(d). Setiap perubahan baringan selanjutnya antara kedua kapal itu tidak akan mengakibatkan kapal yang sedang menyusul sebagai kapal yang menyilang,dalam pengertian aturan-aturan ini atau membebaskan dari kewajibannya unutk tetap bebas dari kapal yang sedang di susul itu sampai akhirnya lewat dan bebas.

ATURAN 14

SITUASI BERHADAPAN

(a). Bilamana dua buah kapal tenaga sedang bertemu dengan haluan berhadapan atau hampir berhadapan, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,masing-masing kapal harus berubah haluannya ke kanan sehingga saling berpapasan pada lambung kirinya.

(b). Situasi demikian itu selalu dianggap ada ,bilamana sebuah kapal melihat kapal lain tepat atau hampir tepat di depannya pada malam hari ia dapat melihat penerangan tiang kapal lain segaris atau hampir segaris dan/atau kedua penerangan lambung pada siang hari dengan memperhatikan penyesuaian sudut pandangan dari kapal lain.

(c).Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah situasi demikian itu ada ,ia harus menganggap demikian halnya dan bertindak sesuai dengan keadaan itu.

ATURAN 15

SITUASI BERSILANGAN

Bilamana dua buah kapal tenaga bersilangan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,maka kapal yang disebelah kanannya terdapat kapal lain harus menyimpang dan jika keadaan mengijinkan menghindari memotong di depan kapal lain itu.

ATURAN 16

TINDAKAN KAPAL YANG MENYIMPANG

Setiap kapal yang oleh aturan-aturan ini di wajibkan menyimpangi kapal lain,sepanjang keadaan memungkinkan ,harus mengambil tindakan dengan segera dan nyata untuk dapat bebas dengan baik.

ATURAN 17

TINDAKAN KAPAL YANG BERTAHAN

(a). i. Apabila salah satu dari kedua kapal diharuskan menyimpang ,maka kapal yang lain harus mempertahankan haluan dan kecepatannya.

ii. Bagaimanapun juga ,kapal yang di sebut terakhir ini boleh bertindak untuk menghindari tubrukan dengan olah geraknya sendiri,segera setelah jelas baginya ,bahwa kapal yang diwajibkan menyimpang itu tidak mengambil tindakan yang sesuai dalam memenuhi aturan-aturan ini.

(b).Bilamana oleh sebab apapun, kapal yang diwajibkan mempertahankan haluan dan kecepatannya mengetahui dirinya berada terlalu dekat, sehingga tubrukan tidak terhindari lagi dengan tindakan oleh kapal yang menyimpang itu saja, ia harus mengambil tindakan sedemikain rupa,sehingga merupakan bantuan yang sebaik-baiknya untuk menghindari tubrukan.

(c). Kapal tenaga yang bertindak dalam situasi bersilangan sesuai dengan sub paragraph(a) (ii) aturan ini untuk menghindari tubrukan dengan kapal tenaga yang lain, jika keadaan mengijinkan, tidak boleh merubah haluannya ke kiri untuk kapal yang berada di lambung kirinya.

(d). Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyimpang dari kewajibannya untuk menghindari jalannya kapal lain.

ATURAN-18

TANGGUNG JAWAB ANTAR KAPAL

Kecuali bilamana aturan – aturan 9, 10, dan 13 mensyaratkan lain :

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan ;

Kapal layar.

(b). Kapal layar yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan sedapat mungkin , harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas

(d). i. Setiap kapal, selain dari pada kapal yang tidak terkendalikan atau kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, jika keadaan mengijinkan, harus menghindarkan dirinya merintangi jalan aman sebuah kapal yang terkendala oleh saratnya yang sedang memperlihatkan isyarat-isyarat dalam aturan 28 ;

ii.Kapal yang terkendala oleh saratnya harus berlayar dengan kewaspadaan khusus dengan benar – benar memperhatikan keadaannya yang khusus itu.

(e). Pesawat terbang laut di air, pada umumnya harus tetap benar-benar bebas dari semua kapal dan menghindarkan dirinya merintangi navigasi kapal-kapal itu.

Sekalipun demikian jika ada bahaya tubrukan, pesawat terbang laut itu harus memenuhi aturan – aturan bagian ini.

SEKSI III

SIKAP KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

ATURAN 19

PERILAKU KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

(a). Aturan ini berlaku bagi kapal-kapal yang tidak saling melihat bilamana sedang berlayar disuatu daerah yang berpenglihatan terbatas atau didekatnya.

(b). Setiap kapal harus berjalan dengan kecepatan aman yang disesuaikan dengan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada.

Kapal tenaga harus menyiapkan mesin-mesinnya untuk segera dapat berolah gerak.

(c). Setiap kapal harus benar-benar memperhatikan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada bilamana sedang memenuhi aturan-aturan Seksi I bagian ini.

(d). Kapal yang mengindera kapal lain hanya dengan radar harus menentukan apakah sedang berkembang situasi saling mendekat terlalu rapat dan / atau apakah ada bahaya tubrukan. Jika demikian kapal itu harus melakukan tindakan dalam waktu yang cukup lapang, dengan ketentuan bahwa bilamana tindakan demikian terdiri dari perubahan haluan, maka sejauh mungkin harus dihindari hal-hal berikut :

i. Perubahan haluan kekiri terhadap kapal yang ada didepan arah melintang, selain dari pada kapal yang sedang disusul ;

ii. Perubahan haluan kearah kapal yang ada diarah melintang atau dibelakang arah melintang.

(e). Kecuali apabila telah yakin bahwa tidak ada bahaya tubrukan, setiap kapal yang mendengar isyarat kabut kapal lain yang menurut pertimbangannya berada didepan arah melintangnya, atau yang tidak dapat menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat hingga kapal yang ada didepan arah melintangnya harus mengurangi kecepatannya serendah mungkin yang dengan kecepatan itu kapal tersebut dapat mempertahankan haluannya.

Jika dianggap perlu, kapal itu harus meniadakan kecepatannya sama sekali dan bagaimanapun juga berlayar dengan kewaspadaan khusus hingga bahaya tubrukan telah berlalu.

BAGIAN C

PENERANGAN DAN SOSOK BENDA

ATURAN 20

P E M B E R L A K U A N

(a). Aturan-aturan didalam bagian ini harus dipenuhi dalam segala keadaan cuaca.

(b). Aturan-aturan tentang penerangan-penerangan harus dipenuhi semenjak saat matahari terbenam sampai saat matahari terbit, dan selama jangka waktu tersebut penerangan-penerangan lain tidak boleh diperlihatkan kecuali apabila penerangan-penerangan demikian tidak dapat terkelirukan dengan penerangan-penerangan yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini atau tidak melemahkan daya tampak atau sifat khususnya atau mengganggu terselenggaranya pengamatan yang layak.

(c). Penerangan-penerangan yang ditentukan oleh aturan-aturan ini, jika dipasang harus juga diperlihatkan sejak saat matahari terbit sampai saat matahari terbenam dalam keadaan penglihatan terbatas dan boleh diperlihatkan dalam semua keadaan bilamana dianggap perlu

(d). Aturan-aturan tentang sosok-sosok benda harus dipenuhi pada siang hari.

(e). Penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

ATURAN 21

D E F I N I S I

(a). “ Penerangan tiang “ berarti penerangan putih yang ditempatkan disumbu membujur kapal, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 225º dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dikedua sisi kapal.

(b). “ Penerangan lambung “ berarti penerangan hijau dilambung kanan dan penerangan merah dilambung kiri, masing-masing memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 112,5º dan ditempatkan sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dimasing-masing sisinya.

Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan lambung itu boleh digabungkan dalam satu lentera yang ditempatkan disumbu membujur kapal.

(c). “ Penerangan buritan “ berarti penerangan putih yang ditempatkan sedekat mungkin dengan buritan, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 135º dan dipasang sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya 67,5º dari arah lurus kebelakang dimasing-masing sisi kapal.

(d). “ Penerangan tunda “ berarti penerangan kuning yang mempunyai sifat-sifat khusus yang sama dengan “ Penerangan buritan “ yang didefinisikan didalam paragrap (c).

(e). “ Penerangan kedip “ berarti penerangan yang berkedip-kedip dengan selang waktu teratur dengan frekuensi 120 kedipan atau lebih setiap menit.

(f). “ Penerangan keliling “ berarti penerangan yang memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 360º.

ATURAN 22

JARAK TAMPAK PENERANGAN

Penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan-aturan ini harus mempunyai kuat cahaya sebagaimana yang disebutkan secara terperinci didalam didalam Seksi 8 Lampiran I untuk dapat kelihatan dari jarak-jarak minimum berikut :

(a). Di kapal-kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih :

– Penerangan tiang 6 mil ;

– Penerangan lambung 3 mil ;

– Penerangan buritan 3 mil ;

– Penerangan tunda 3 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 3 mil.

(b). Di kapal-kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 50 meter :

– Penerangan tiang 5 mil, kecuali apabila panjang kapal itu kurang dari 20 meter 3 mil ;

– Penerangan lambung 2 mil

– Penerangan buritan 2 mil

– Penerangan tunda 2 mil

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(c). Di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter :

– Penerangan tiang 2 mil ;

– Penerangan lambung 1 mil ;

– Penerangan buritan 2 mil ;

– Penerangan tunda 2 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(d). Di kapal-kapal yang terbenam sebagian atau benda-banda yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas :

– Penerangan keliling putih 3 mil.

ATURAN 23

KAPAL TENAGA YANG SEDANG BERLAYAR

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan tiang di depan ;

Penerangan tiang kedua di belakang dan lebih tinggi dari pada penerangan tiang depan kecuali kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter, tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan.

(b).Kapal bantalan udara bilamana sedang beroperasi dalam bentuk tanpa berat benaman disamping penerangan-penerangan yang ditentukan di dalam paragrap (a) aturan ini, harus memperlihatkan penerangan keliling kuning kedip.

(c). i. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh memperlihatkan penerangan keliling putih dan penerangan-penerangan lambung.

ii. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 7 meter yang kecepatan meximumnya tidak lebih dari 7 mil setiap jam, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, memperlihatkan penerangan keliling putih dan jika mungkin, harus juga memperlihatkan penerangan-penerangan lambung.

Penerangan tiang atau penerangan keliling putih dikapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter boleh dipindahkan dari sumbu membujur kapal jika pemasangan disumbu membujur tidak dapat dilakukan,dengan ketentuan bahwa penerangan-penerangan lambung digabungkan dalam satu lentera yang harus diperlihatkan disumbu membujur kapal atau ditempatkan sedekat mungkin disumbu membujur yang sama dengan penerangan tiang atau penerangan keliling putih.

ATURAN 24

MENUNDA DAN MENDORONG

(a). Kapal tenaga bilamana sedang menunda, harus memperlihatkan :

Penerangan pengganti peneranganyang ditentukan didalam aturan (23) (a) (i) atau (a) (ii), dua penerangan tiang yang bersusun tegak.

Bilamana panjang tundaan diukur dari buritan kapal yang sedang menunda sampai keujung belakang tundaan lebih dari 200 meter, tiga penerangan yang demikian itu, bersusun tegak lurus ;

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan ;

Penerangan tunda, tegak lurus diatas penerangan buritan ;

Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(b).Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam suatu unit berangkai, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan 23.

(c).Kapal tenaga bilamana sedang mendorong maju atau sedang menggandeng kecuali didalam hal suatu unit berangkai harus memperlihatkan :

i. Sebagai pengganti penerangan yang ditentukan didalam aturan 23 (a) (i) atau (a) (ii) dua penerangan tiang yang bersusun tegak lurus ;

ii. Penerangan-penerangan lambung ;

iii. Penerangan buritan.

(d).Kapal tenaga yang dikenai paragrap (a) atau (c) aturan ini, harus juga memenuhi aturan 23 (a) (ii) .

(e).Kapal atau benda yang sedang ditunda, selain dari pada yang dinyatakan didalam paragrap (g) aturan ini harus memperlihatkan :

i. Penerangan-penerangan lambung ;

ii. Penerangan buritan ;

iii.Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(f).Dengan ketentuan bahwa berapapun jumlah kapal yang sedang digandeng atau didorong dalam suatu kelompok, harus diberi penerangan sebagai satu kapal :

i. Kapal yang sedang didorong maju yang bukan merupakan bagian dari suatu unit berantai, harus memperlihatkan penerangan-penerangan lambung di ujung depan ;

ii. Kapal yang sedang digandeng harus memperlihatkan penerangan buritan dan ujung depan, penerangan-penerangan lambung.

(g) Kapal atau benda yang terbenam sebagian, atau gabungan dari kapal-kapal atau benda-benda demikian yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas, harus memperlihatkan :

Jika lebarnya kurang dari 25 meter, satu penerangan keliling putih diujung depan atau didekatnya dan satu diujung belakang atau didekatnya kecuali apabila naga umbang itu tidak perlu memperlihatkan penerangan diujung depan atau didekatnya ;

Jika lebarnya 25 meter atau lebih, dua penerangan keliling putih tambahan diujung-ujung paling luar dari lebarnya atau didekatnya ;

Jika panjangnya lebih dari 100 meter, penerangan-penerangan keliling putih tambahan diantara penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) dan (ii) sedemikian rupa hingga jarak antara penerangan-penerangan itu tidak boleh lebih dari 100 meter ;

Sosok belah ketupat di atau didekat ujung paling belakang dari kapal atau benda paling belakang yang sedang ditunda dan jika panjang tundaan itu lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya serta ditempatkan sejauh mungkin di depan.

(h). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal atau benda yang sedang ditunda memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (e) atau (g) aturan ini, semua upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menerangi kapal atau benda yang ditunda itu atau setidak-tidaknya menunjukan adanya kapal atau benda demikian itu.

(i). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal yang tidak melakukan operasi-operasi penundaan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (c) aturan ini, maka kapal demikian itu tidak diisyaratkan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan itu bilamana sedang menunda kapal lain dalam bahaya atau dalam keadaan lain yang membutuhkan pertolongan. Segala upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menunjukan sifat hubungan antara kapal yang sedang menunda dan kapal yang sedang ditunda sebagaimana yang diharuskan dan dibolehkan oleh aturan 36 terutama untuk mrnerangi tali tunda.

ATURAN 25

KAPAL LAYAR YANG SEDANG BERLAYAR DAN

KAPAL YANG SEDANG BERLAYAR DENGAN DAYUNG

(a). Kapal layar yang sedang berlayar yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan.

(b). Di kapal layar yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh digabungkan didalam satu lentera yang dipasang dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(c). Kapal layar yang sedang berlayar, disamping penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini boleh memperlihatkan dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang diatas merah dan yang dibawah hijau, tetapi penerangan-penerangan ini tidak boleh diperlihatkan bersama-sama dengan lentera kombinasi yang dibolehkan paragrap (b) aturan ini.

(d). i. Kapal layar yang panjangnya kurang dari 7 meter, jika mungkin harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) aturan ini, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal layar itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang cukup untuk mencegah tubrukan.

ii. Kapal yang sedang berlayar dengan dayung boleh memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan ini bagi kapal-kapal layar, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal yang sedang berlayar dengan dayung itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang memadai untuk mencegah tubrukan.

ATURAN 26

KAPAL IKAN

(a). Kapal yang sedang menangkap ikan, apakah sedang berlayar atau berlabuh jangkar hanya boleh memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan oleh aturan ini.

(b). Kapal yang sedang mendogol, maksudnya sedang menarik pukat tarik atau perkakas lain di dalam air digunakan sebagai alat menangkap ikan, harus memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas hijau dan yang di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegak lurus, kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini boleh memperlihatkan keranjang ;

Penerangan tiang lebih kebelakang dan lebih tinggi dari pada penerangan hijau keliling, kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian itu, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Bilaman mempunyai laju di air, sebagai tambahan atas penerangan- penerangan yang ditentukan dalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan, kecuali yang sedang mendogol harus memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegaklurus, yang di atas merah dan di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegaklurus. Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini, boleh memperlihatkan keranjang ;

Bilamana mana ada alat penangkap ikan yang terjulur mendatar dari kapal lebih dari 150 meter, penerangan putih keliling atau kerucut yang titik puncaknya ke atas diarah alat penangkap ;

Bilamana mempunyai kecepatan di air, disamping penerangan- penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan dekat sekali dengan kapal-kapal lain yang menangkap ikan, boleh memperlihatkan isyarat-isyarat tambahan yang diuraikan dengan jelas didalam Lampiran II Peraturan ini.

(e). Bilamana sedang tidak menangkap ikan tidak boleh memperlihatkan penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan ini tetapi hanya penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang panjangnya sama dengan panjang kapal itu.

ATURAN 27

KAPAL YANG TIDAK TERKENDALIKAN ATAU

YANG KEMAMPUAN OLAH GERAKNYA TERBATAS

(a). Kapal yang tidak terkendalikan harus memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Dua bola atau sosok benda yang serupa, bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Bilamana mempunyai laju di air sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan.

(b).Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kecuali kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, harus memperlihatkan :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang tengah harus putih ;

Tiga sosok benda bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya. Sosok benda yang tertinggi dan yang terendah harus bola, sedangkan yang di tengah sosok belah ketupat ;

Bilamana mempunyai laju di air, penerangan atau penerangan-penerangan tiang, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) ;

Bilamana berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam sub paragrap (i) dan (ii) penerangan, penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30.

(c). Kapal tenaga yang sedang melaksanakan pekerjaan penundaan sedemikian rupa sehingga sangat membatasi kemampuan kapal yang sedang menunda dan tundaannya itu menyimpang dari haluannya yang ditentukan di dalam Aturan 24 (a) harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam sub paragrap (b) (i) dan (ii) Aturan ini.

(d). Kapal yang sedang melaksanakan pengerukan atau pekerjaan di dalam air, bilamana kemampuan olah geraknya terbatas, harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam su paragrap (b) (i), (ii) dan (iii) Aturan ini dan sebagai tambahan bilamana ada rintangan ,harus memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling atau dua bola bersusun tegak lurus untuk menunjukkan sisi tempat rintangan itu berada ;

Dua penerangan hijau keliling atau dua sosok belah ketupat bersusun tegak lurus untuk menunjukan sisi yang boleh dilewati kapal lain ;

Bilaman berlabuh jangkar, penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap ini sebagai ganti penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan 30.

(e) Bilaman ukuran kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan penyelaman itu membuatnya tidak mampu memperlihatkan semua penerangan dan sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap (d) Aturan ini, harus diperlihatkan yang berikut ini :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus dis suatu tempat yang diperlihatkan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang di tengah harus putih ;

Tiruan bendera kaku “A” dari Kode Internasional yang tingginya tidak kurang dari 1 meter. Langkah-langkah harus dilakukan untuk menjamin agar tiruan itu dapat kelihatan keliling.

(f). Kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal tenaga di dalam Aturan 23 atau atas penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang sedang berlabuh jangkar di dalam Aturan 30,mana yang sesuai harus memperlihatkan tiga penerangan hijau keliling atau tiga bola. Salah atu dari penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda ini harus diperlihatkan di puncak tiang depan atau di dekatnya dan satu dimasing-masing ujung andang-andang depan. Penerangan-penerangan atau sosok benda ini menunjukan bahwa berbahayalah kapal lain yang mendekat dalam jarak 1000 meter dari pembersih ranjau itu.

(g). Kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, kecuali kapal-kapal yang sedang menjalankan pekerjaan penyelaman, tidak wajib memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan ini.

(h). Isyarat-isyarat yang yang ditentukan di dalam Aturan ini bukan isyarat-isyarat dari kapal-kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan. Isyarat-isyarat demikian tercantum di dalam Lampiran IV Peraturan ini.

ATURAN 28

KAPAL YANG TERKENDALA OLEH SARATNYA

Kapal yang terkendala oleh saratnya, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal-kapal tenaga didalam Aturan 23, boleh memperlihatkan tiga penerangan merah keliling bersusun tegak lurus, atau sebuah silinder di tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

ATURAN 29

KAPAL PANDU

(a). Kapal yang sedang bertugas memandu harus memperlihatkan :

Di puncak tiang atau di dekatnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas putih dan yang di bawah merah ;

Bilamana sedang berlayar, sebagai tambahan, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan ;

Bilaman berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30 bagi kapal-kapal yang berlabuh jangkar.

(b). Kapal pandu bilaman tidak sedang bertugas memandu harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang serupa sesuai dengan panjangnya.

ATURAN 30

KAPAL YANG BERLABUH JANGKAR DAN KAPAL YANG KANDAS

(a). Kapal yang berlabuh jangkar harus memperlihatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya :

Di bagian depan, penerangan putih keliling atau satu bola ;

Di buritan atau di dekatnya dan di suatu ketinggian yang lebih rendah dari pada penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), sebuah penerangan putih keliling.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 50 meterboleh memperlihatkan sebuah penerangan putih keliling di suatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini.

(c). Kapal yang berlabuh jangkar boleh juga menggunakan penerangan-penerangan kerja atau penerangan-penerangan yang sepadan yang ada di kapal untuk menerangi geladak-geladaknya, sedangkan kapal yang panjangnya 100 meter ke atas harus memperlihatkan penerangan-penerangan demikian itu.

(d). Kapal yang kandas harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini dan sebagai tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya :

Dua penerangan merah bersusun tegak lurus ;

Tiga bola bersusun tegak lurus.

(e). Kapal yang panjangnya kurang dari 7 meter bilamana berlabuh jangkar, tidak didalam atau didekat alur pelayaran sempit, air pelayaran atau tempat berlabuh jangkar, atau tempat yang biasa dilayari oleh kapal-kapal lain, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (a) dan (b) Aturan ini.

(f). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, bilamana kandas, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam su paragrap (d) (i) dan (ii) Aturan ini.

ATURAN 31

PESAWAT TERBANG LAUT

Apabila pesawat terbang laut tidak mampu memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda dengan sifat-sifat atau kedudukan-kedudukan yang ditentukan didalam aturan-aturan bagian ini, pesawat terbang laut itu harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benba yang sifat-sifat dan kedudukan-kedudukannya semirip mungkin dengan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda.

BAGIAN D

ISYARAT BUNYI DAN ISYARAT CAHAYA

ATURAN 32

D E F I N I S I

(a). Kata “ suling “ berarti alat isyarat bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan yang ditentukan dan yang memenuhi perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan-peraturan ini.

(b). Istilah “ tiup pendek “ berarti tiupan yang lamanya kira-kira satu detik ;

(c). Istilah “ tiup panjang “ berarti tiupan yang lamanya 4 sampai 6 detik.

ATURAN 33

PERLENGKAPAN UNTUK ISYARAT BUNYI

(a). Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih harus dilengkapi dengan suling dan genta serta kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih sebagai tambahan, harus dilengkapi dengan gong yang nada dan bunyinya tidak dapat terkacaukan dengan nada dan bunyi genta. Suling, genta dan gong itu harus memenuhi, perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan ini.

Genta atau gong atau kedua-duanya boleh diganti dengan perlengkapan lain yang mempunyai sifat-sifat khas yang sama dengan bunyi masing-masing, dengan ketentuan bahwa alat-alat isyatar yang ditentukan itu harus selalu mungkin dibunyikan dengan tangan.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memasang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini, tetapi jika tidak memasangnya, kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang menghasilkan isyarat bunyi yang efisien.

ATURAN 34

ISYARAT OLAH GERAK DAN ISYARAT PERINGATAN

(a). Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling melihat, kapal tenaga yang sedang berlayar, bilamana sedang berolah gerak sesuai dengan yang diharuskan atau dibolehkan atau disyaratkan oleh Aturan-aturan ini, harus menunjukan olah gerak tersebut dengan isyarat-isyarat berikut dengan menggunakan sulingnya :

– Satu tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekanan “ ;

– Dua tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekiri “ ;

– Tiga tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “.

(b). Setiap kapal boleh menambah isyarat-isyarat suling yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini dengan isyarat-isyarat cahaya, diulang-ulang seperlunya sementara olah gerak sedang dilakukan :

Isyarat-isyarat cahaya ini harus mempunyai arti berikut :

Satu kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekanan “ ;

Dua kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekiri “ ;

Tiga kedip untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “ ;

Lamanya masing-masing kedip harus kira-kira satu detik, selang waktu antara kedip-kedip itu harus kira-kira satu detik, serta selang waktu antara isyarat-isyarat beruntun tidak boleh kurang dari 20 detik ;

Penerangan yang digunakan untuk isyarat ini jika dipasang, harus penerangan putih keliling, dapat kelihatan dari jarak minimum 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

(c). Bilamana dalam keadaan saling melihat dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit :

Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal lain, sesuai dengan Aturan 9 (e) (i) harus menyatakan maksudnya itu dengan isyarat berikut dengan sulingnya :

– Dua tiup panjang diikuti satu tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kanan anda “ ;

– Dua tiup panjang diikuti dua tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kiri anda “.

Kapal yang sedang siap untuk disusul itu bilamana sedang melakukan tindakan sesuai dengan Aturan 9 (e) (i), harus menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat dengan sulingnya :

-Satu tiup panjang, satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek dengan tata urutan tersebut.

(d). Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan saling melihat sedang saling mendekat dan karena suatu sebab, apakah salah satu dari kapal-kapal itu atau kedua-duanya tidak berhasil memahami maksud-maksud atau tindakan-tindakan kapal yang lain atau dalam keadaan ragu-ragu apakah kapal yang lain sedang melakukan tindakan yang memadai untuk menghindari tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu harus segera menyatakan keragu-raguan demikian dengan memperdengarkan sekurang-kurangnya 5 tiup pendek dan cepat dengan suling. Isyarat demikian boleh ditambah dengan isyarat cahaya yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip, pendek dan cepat.

(e). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur pelayaran atau air pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain dapat terhalang oleh alingan, harus memperdengarkan satu tiup panjang.

Isyarat demikian itu harus disambut dengan tiup panjang oleh setiap kapal yang sedang mendekat yang sekiranya ada didalam jarak dengar disekitar tikungan atau dibalik alingan itu.

(f). Jika suling-suling dipasang di kapal secara terpisah dengan jarak lebih dari 100 meter, hanya satu suling saja yang harus digunakan untuk memberikan isyarat olah gerak dan isyarat peringatan.

ATURAN 35

ISYARAT BUNYI DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

Didalam atau didekat daerah yang berpenglihatan terbatas baik pada siang hari atau pada malam hari, isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Aturan ini harus digunakan sebagai berikut :

(a). Kapal tenaga yang mempunyai laju di air memperdengarkan satu tiup panjang dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(b). Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi berhenti dan tidak mempunyai laju di air harus memperdengarkan dua tiup panjang beruntun dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit dan selang waktu tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.

(c). Kapal yang tidak terkendalikan, kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kapal yang terkendala oleh saratnya, kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan dan kapal yang sedang menunda atau mendorong kapal lain sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini harus memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup panjang diikuti oleh dua tiup pendek dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana berlabuh jangkar dan kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas bilamana sedang menjalankan pekerjaannya dalam keadaan berlabuh jangkar, sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan dadalam paragrap (c) Aturan ini.

(e). Kapal yang ditunda atau jika yang kapal ditunda itu lebih dari satu, maka kapal yang paling belakang dari tundaanitu jika diawaki, harus memperdengarkan 4 tiup beruntun, yakni 1 tiup panjang diikuti 3 tiup pendek, dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit. Bilamana mungkin, isyarat ini harus diperdengarkan oleh kapal yang menunda.

(f). Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam kesatuan gabungan, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan harus memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini.

(g). Kapal yang berlabuh jangkar harus membunyikan genta dengan cepat selama kira-kira 5 detik dengan selang waktu tidak lebih dari 1 menit.

Di kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih genta itu harus dibunyikan dibagian depan kapal dan segera setelah pembunyian genta, gong harus dibunyikan cepat-cepat selama kira-kira 5 detik dibagian belakang kapal.

Kapal yang berlabuh jangkar, sebagai tambahan boleh memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek untuk mengingatkan kapal lain yang mendekat mengenai kedudukannya dan adanya kemungkinan tubrukan.

(h). Kapal yang kandas harus memperdengarkan isyarat genta dan jika dipersyaratkan, isyarat gong yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, dan sebagai tambahan harus memperdengarkan tiga ketukan terpisah dan jelas dengan genta sesaat sebelum dan segera setelah pembunyian genta yang cepat itu. Kapal yang kandas, sebagai tambahan boleh memperdengarkan isyarat suling yang sesuai.

(i). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memperdengarkan isyarat-isyarat tersebut diatas, tetapi jika tidak memperdengarkannya, kapal itu harus memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(j). Kapal pandu bilamana sedang bertugas memandu, sebagai tambahan atas isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragraph (a), (b) atau (g) Aturan ini boleh memperdengarkannya isyarat pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek.

ATURAN 36

ISYARAT UNTUK MENARIK PERHATIAN

Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain, setiap kapal boleh menggunakan isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak dapat terkelirukan dengan setiap isyarat yang diharuskan atau dibenarkan dimanapun didalam Aturan ini, atau boleh mengarahkan berkas cahaya lampu kejurusan manapun. Sembarang cahaya yang digunakan untuk menarik perhatian kapal lain harus sedemikian rupa sehingga tidak dapat terkelirukan dengan alat bantu navigasi manapun. Untuk memenuhi maksud Aturan ini penggunaan penerangan berselang-selang atau penerangan berputar dengan intensitas tinggi, misalnya penerangan-penerangan stroba, harus dihindarkan.

ATURAN 37

ISYARAT BAHAYA

Bilaman kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan, kapal itu harus menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Lampiran IV Peraturan ini.

BAGIAN E

PEMBEBASAN – PEMBEBASAN

ATURAN 38

P E M B E B A S A N

Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi syarat-syarat Peraturan internasional tentang pencegahan tubrukan di laut 1960 yang lunasnya diletakkan sebelum peraturan ini berlaku atau yang pada tanggal itu dalam tahapan pembangunan yang sesuai, dibebaskan dari kewajiban untuk memenuhi Peraturan ini sebagai berikut :

(a). Pemasangan penerangan-penerangan dengan jarak yang ditentukan didalam Aturan 22, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya aturan ini.

(b). Pemasangan penerangan-penerangan dengan perincian warna sebagaimana yang ditentukan didalam seksi 7 Lampiran I Aturan ini, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan.

(c). Penempatan kembali penerangan-penerangan sebagai akibat dari pengubahan satuan-satuan imperial kesatuan-satuan metrik dan pembulatan angka-angka ukuran, merupakan pembebasan tetap.

(d). i. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 150 meter sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini merupakan pembebasan tetap.

ii. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya 150 meter atau lebih sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.

(e). Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(f). Penempatan kembali penerangan-penerangan lambung, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (g) dan 3 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(g). Syarat-syarat tentang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam Lampiran III Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(h). Penempatan kembali penerangan-penerangan keliling, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 9 (b) Lampiran I Peraturan ini, merupakan pembebasan tetap.

Maritime Info Peraturan Pencegahan tubrukan di laut

P2TL

PERATURAN INTERNASIONAL

UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972

BAGIAN UMUM

ATURAN I

PEMBERLAKUAN

(a). Aturan-aturan ini berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan di semua perairan yang berhubungan dengan laut yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut.

(b). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini yang menghalangi berlakunya peraturan-peraturan khusus yang dibuat oleh penguasa yang berwenang,untuk alur pelayaran ,pelabuhan,sungai , danau atau perairan pedalaman yang berhubungan dengan laut dan dapat dilayari oleh kapal laut.

Aturan-aturan khusus demikian itu harus semirip mungkin dengan aturan-aturan ini.

(c). Tidak ada suatu apapun dari aturan ini yang akan menghalangi berlakunya aturan-aturan khusus yang manapun yang dibuat oleh pemerintah negara manapun berkenaan dengan tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat, sosok benda atau isyarat suling untuk kapal –kapal perang dan kapal-kapal yang berlayar dalam beririnng-iringan atau lampu-lampu isyarat atau sosok-sosok benda untuk kapal-kapal ikan yang sedang menangkap ikan dalam suatu armada.

Tambahan –tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat ,sosok-sosok benda atau isyarat –isyarat suling ini harus dibuat sejauh yang dapat dilaksanakan ,supaya tidak dapat disalah artikan dengan lampu manapun sosok benda atau isyarat yang ditentukan di lain tempat dalam peraturan ini.

(d). Bagan-bagan pemisah lalu lintas dapat disyahkan oleh organisasi untuk maksud aturan-aturan ini.

(e). Manakala pemerintah yang bersangkutan berpendapat bahwa kapal berkonstruksi atau kegunaan khusus tiadak dapat memenuhi ketentuan dari aturan-aturan ini sehubungan dengan jumlah , jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda ,maupun penempatan dari ciri-ciri atau isyarat bunyi ,tanpa menghalangi tugas khusus kapal-kapal itu ,maka kapal yang demikian itu harus memenuhi ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan jumlah ,tempat,jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda manapun yang berhubungan dengan penempatan dan ciri-ciri alat isyarat bunyi sebagaimana ditentukan oleh pemerintahnya yang semirip mungkin dengan aturan-aturan ini,bagi kapal yang bersangkutan.

ATURAN 2

TANGGUNG JAWAB

(a). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini akan membebaskan tiap kapal atau pemiliknya,nakhoda atau awak kapalnya,atas akibat-akibat setiap kelalaian untuk memenuhi aturan-aturan ini atau atas kelalaian terhadap setiap tindakan berjaga-jaga yang dipandang perlu menurut kebiasaan pelaut atau terhadap keadaan-keadaan khusus dimana kapal itu berada.

(b). Dalam menafsirkan dan memenuhi aturan-aturan ini , harus benar-benar memperhatikan semua bahaya navigasi dan bahaya tubrukan serta setiap keadaan khusus termasuk keterbatasan-keterbatasan dari kapal-kapal yang terlibat,yang dapat memaksa menyimpang dari aturan-aturan ini untuk menghindari bahaya mendadak.

ATURAN 3

DEFINISI-DEFINISI UMUM

Untuk maksud atruan-aturan ini kecuali di dalamnya diisyaratkan lain :

(a). Kata “kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air ,termasuk kapal tanpa benaman (displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat diguakan sebagai sarana angkutan di air.

(b). Istilah” kapal tenaga “ berarti setiap kapal yang digerakkan dengan mesin.

(c). Istilah”kapal layar” berarti setiap kapal yang sedang berlayar dengan menggunakan layar, dengan syarat bahwa mesin penggeraknya bila ada sedang tidak digunakan.

(d). Istilah ”kapal yang sedang menagkap ikan” berarti setiap kapal yang menangkap ikan dengan jaring, tali, pukat atau jaring penangkap ikan lainnya yang membatasi kemampuan olah geraknya, tetapi tidak meliputi kapal yang menangkap ikan dengan tali pancing atau alat penangkap ikan lainnya yang tidak membatasi kemampuan mengolah geraknya diair.

(e). Kata ”pesawat terbang laut” mencakup setiap pesawat terbang yang dibuat untuk mengolah gerak di air.

(f). Istilah ”Kapal yang tidak terkendalikan ” berarti kapal yang karena sesuatu keadaan yang istimewa tidak mampu untuk mengolah gerak seperti yang diisyaratkan oleh aturan-aturan ini dan karenanya tidak mampu menyimpangi kapal lain.

(g). Istilah ”kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas” berarti kapal yang karena sifat pekerjaannya mengakibatkan kemampuannya untuk mengolah gerak seperti diisyaratkan oleh aturan-aturan ini menjadi terbatas dan karenanya tidak mampu untuk menyimpangi kapal lain.

Kapal –kapal berikut harus dianggap sebagai kapal-kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas.

Kapal yang digunakan memasang merawat atau mengangkat merkah navigasi atau pipa laut.

Kapal yang melakukan kegiatan pengerukan, penelitian atau pekerjaan-pekerjaan di bawah air.

Kapal yang melakukan pengisian atau memindahkan orang-orang, perbekalan atau muatan pada waktu sedang berlayar.

Kapal yang sedang meluncurkan atau sedang mendaratkan kembali pesawat terbang.

Kapal yang melakukan kegiatan pembersihan ranjau.

Kapal yang menunda sedemikian rupa sehingga menjadikan tidak mampu untung menyimpang dari haluannya.

(h). Istilah “ Kapal yang terkendala oleh saratnya” berati kapal tenaga yang kerena saratnya terhadap kedalaman air dan lebar perairan yang dapat dilayari mengakibatkan kemampuan olah geraknya untuk menyimpang dari garis haluan yang sedang diikuti menjadi terbatas sekali.

(i). Istilah “sedang berlayar“ Berarti kapal tidak berlabuh jangkar atau diikat pada daratan atau kandas.

(j). Kapal-kapal yang harus dianggap melihat satu sama lainnya apabila kapal yang satu dapat dilihat visual oleh kapal lainnya.

(k). Istilah penglihatan terbatas berarti setiap keadaan dalam mana daya tampaknya dibatasi oleh kabut, halimun, hujan salju, hujan badai,badai pasir,atau setiap sebab lain yang serupa dengan itu.

BAGIAN B

ATURAN –ATURAN MENGEMUDIKAN KAPAL DAN MELAYARKAN KAPAL

SEKSI 1

SIKAP KAPAL-KAPAL DALAM SETIAP KEADAAN PENGLIHATAN

ATURAN 4

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam setiap keadaan penglihatan.

ATURAN 5

PENGAMATAN

Tiap kapal harus senantiasa melakukan pengamatan yang layak,baik dengan penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana tersedia yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada sehingga dapat membuat penilaian sepenuhnya terhadap situasi dan bahaya tubrukan.

***Hal – hal yang harus dilakukan pada saat mengadakan pengamatan keliling adalah :

Menjaga kewaspadaan secara terus – menerus dengan penglihatan maupun dengan pendengaran dan juga dengan alat – alat yang lain.

Memperhatikan sepenuhnya situasi dan resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi.

Petugas pengamat harus melaksanakan dengan baik atas tugasnya dan tidak boleh diberikan tugas lain karena dapat mengganggu pelaksanaan pengamatan.

Tugas pengamat dan pemegang kemudi harus terpisah dan tugas kemudi tidak boleh merangkap atau dianggap merangkap tugas pengamatan, kecuali di kapal – kapal kecil dimana pandangan ke segala arah tidak terhalang dari tempat kemudi.

Jika dipandang perlu personel yang melaksanakan tugas jaga ditambah sesuai dengan kondisi yang ada.

Jika kapal menggunakan kemudi otomatis diharapkan selalu mengadakan pengecekan terhadap haluan kapal dalam jangka waktu tertentu.

***Kondisi – kondisi khusus yang harus mendapat prioritas untuk dilaksanakannya pengamatan keliling yang lebih intensif adalah :

Berlayar di daerah yang padat lalu lintas kapalnya.

Berlayar di daerah dekat pantai.

Berlayar di dalam atau di dekat bagan pemisah dan di dalam alur pelayaran sempit.

Berlayar di daerah tampak terbatas.

Berlayar di daerah yang mempunyai banyak bahaya navigasi.

Berlayar pada malam hari.

ATURAN 6

KECEPATAN AMAN

Setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan berhasil untuk menghindari tubrukan dan dapat dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada.dalam menentukan kecepatan aman, faktor-faktor berikut termasuk faktor-faktor yang harus diperhitungkan :

a. Oleh semua kapal :

Tingkat penglihatan ;

Kepadatan lalu lintas termasuk pemusatan kapal-kapal ikan atau kapal lain ;

Kemampuan olah gerak kapal ,khususnya yang berhubungan jarak henti dan kemampuan berputar ;

Pada malam hari, terdapatnya cahaya latar belakang misalanya lampu lampu dari daratan atau pantulan lampu-lampu sendiri ;

Keadaan angin,laut dan arus dan bahaya-bahaya navigasi yang ada disekitarnya;

Sarat sehubungan dengan keadaan air yang ada ;

b. Tambahan bagi kapal kapal yang radarnya dapat bekerja dengan baik

Ciri-ciri effesiensi dan keterbatasan pesawat radar

Setiap kendala yang timbul oleh skala jarak radar yang dipakai;

Pengaruh keadaan laut ,cuaca dan sumber sumber gangguan lain pada penggunaan radar;

Kemungkinan bahwa kapal-kapal kecil ,gunung es dan benda-benda terapung lainnya tidak dapat ditangkap oleh radar pada jarak yang cukup;

Jumlah, posisi dan gerakan kapal-kapal yang ditangkap oleh radar;

Berbagai macam penilaian penglihatan yang lebih tepat yang mungkin dapat bila radar digunakan untuk menentukan jarak kapal-kapal atau benda lain disekitarnya.

ATURAN 7

BAHAYA TUBRUKAN

(a). Semua kapal harus menggunakan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada untuk menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan .Jika timbul keragu-raguan maka bahaya demikian itu harus dianggap ada.

(b). Penggunaan pesawat radar harus dilakukan dengan tepat ,jika dipasang dikapal dan bekerja dengan baik ,termasuk penyimakan jarak jauh untuk memperoleh peringatan dini akan adanya bahaya tubrukan dan pelacakan posisi radar atau pengamatan sistematis yang sepadan atas benda-benda yang terindra.

(c). Praduga-praduga tidak boleh dibuat berdasarkan oleh keterangan yang sangat kurang khususnya keterangan radar.

(d). Dalam menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan ,pertimbangan-pertimbangan berikut ini termasuk pertimbangan-pertimbangan yang harus diperhitungkan.

Bahaya demikian harus dianggap ada jika baringan pedoman kapal yang sedang mendekat tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Bahaya demikain kadang-kadang mungkin ada,walaupun perubahan baringan yang berarti itu nyata sekali ,terutama bilamana sedang menghampiri sebuah kapal dengan jarak yang dekat sekali.

ATURAN 8

TINDAKAN UNTUK MENGHINDARI TUBRUKAN

(a). Setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan ,jika keadaan mengijinkan harus tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar memperhatikan syarat-syarat kepelautan yang baik.

(b). Setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari tubrukan jika keadaan mengizinkan harus cukup besar sehingga segera menjadi jelas bagi kapal lain yang sedang mengamati dengan penglihatan atau dengan radar ,serangkaian prubahan kecil dari haluan dan atau kecepatan hendaknya dihindari.

(c). Jika ada ruang gerak yang cukup perubahan haluan saja mungkin merupakan tindakan yang paling berhasil guna untuk menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat,dengan ketentuan bahwa perubahan itu dilakukan dalam waktu cukup dini ,bersungguh sungguh dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling mendekat terlalu rapat.

(d). Tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan dengan kapal lain harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan pelewatan dengan jarak aman .Hasil guna tindakan itu harus dikaji secara seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya terlewati dan bebas sama sekali.

(e). Jika diperlukan untuk menghindari tubrukan atau untuk memberikan waktu yang lebih banyak untuk menilai keadaan ,kapal harus mengurangi kecepatannya atau menghilangkan kecepatannya sama sekali dengan memberhentikan atau menjalankan mundur sarana penggeraknya.

(f). i. Kapal yang oleh aturan ini diwajibkan tidak boleh merintangi jalan atau jalan aman kapal lainnya,bilamana diwajibkan oleh suatu keadaan harus mengambil tindakan sedini mungkin untuk memberikan untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi jalan kapal orang lainnya.

ii. Kapal yang diwajibkan untuk tidak merintangi jalannya atau jalan aman kapal lain tidak dibebaskan dari kewajiban ini jika mendekati kapal lain mengakibatkan bahaya tubrukan ,dan bilamana akan mengambil tindakan harus memperhatikan tindakan yang diwajibkan oleh aturan-aturan dalam bagian ini.

iii. Kapal yang jalannya tidak boleh dirintangi tetap wajib sepenuhnya untuk melaksanakan aturan-aturan dibagian ini bilamana kedua kapal itu sedang berdekatan satu dengan lainnya yang mengakibatkkan bahaya tubrukan.

ATURAN 9

ALUR-ALUR PELAYARAN SEMPIT

(a). Kapal jika berlayar mengikuti arah alur pelayaran atau air pelayaran sempit harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran yang terletak disis lambung kanannya selama masih aman dan dapat dilaksanakan.

(b). Kapal dengan panjang kurang dari 20 meter atau kapal layar tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang hanya dapat berlayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang berlayar di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(d). Kapal tidak boleh memotong air pelayaran sempit atau alur pelayaran sempit ,jika pemotongan demikian itu menghalangi jalannya kapal yang hanya dapat belayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran demikian itu.

Kapal yang disebut belakangan boleh menggunakan isyarat bunyi yang diatur dalam aturan 34 d jika ragu –ragu mengenai maksud pada kapl yang memotong haluan itu.

(e). i. Dialur atau air pelayaran sempit jika penyusulan dapat dilaksanakan ,hanya kapal yang disusul itu merlakukan tindakan untuk memungkinkan dilewatinya dengan aman,maka kapal yang bermaksud untuk menyusul harus menunjukkan maksudnya dengan membunyikan isyarat yang sesuai diisyaratkan dalam aturan 34(c) (i).Kapal yang disuusl itu jika menyetujui harus mermperdengarkan isyarat sesduai dengan yang ditentukan dalam aturan 34(c) (ii)dan mengambil langkah untuk memungkinkan dilewati dengan aman.Jika ragu-ragu boleh membunyikan isyarat –isyarat yang diatur dalam aturan 13.

ii. Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyusul dari kewajibannya berdasarkan aturan 13.

(f). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah pelayaran atau air pelayaran sempit dimana kapal-kapal lain dapat dikaburkan oleh rintangan yang terletak diantaranya harus berlayar dengan kewaspadaan dan hati-hati dan harus membunyikan isyarat yang sesuai yang diisyaratkan dalam aturan 34(e).

Setiap kapal ,jika keadaan mengijinkan harus menghindarkan diri dari berlabuh jangkar di alur pelayaran sempit.

ATURAN 10

TATA PEMISAHAN LALU LINTAS

(a). Aturan ini berlaku bagi tata pemisahan lalu lintas yang ditrima secara syah oleh organisasi dan tidak membebaskan setiap kapal dari kewajibannya untuk melaksanan aturan lainnya.

(b). Kapal yang sedang menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus :

Berlayar dijalur lalu lintas yang sesuai dengan arah lalu lintas umum untuk jalur itu;

Sedapat mungkin tetap bebas dari garis pemisah atau zona pemisah lalu lintas.

Jalur lalu lintas pada umumnya dimasuki atau ditinggal kan dari ujung jalur ,tetapi bilamana tindakan memasuki maupun meninggalkan jalur itu dilakukan dari salah satu sisi ,tindakan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah sudut yang sekecil-kecilnya terhadap arah lalu lintas umum.

(c).Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari memotong jalur lalu lintas tetapi jika terpaksa melakukannya harus memotong dengan haluan sedapat mungkin tegak lurus terhadap arah lalu lintas umum.

(d). i Kapal yang berada di sekitar tata pemisah lalu lintas tidak boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana ia dapat menggunakan jalur lalu lintas yang sesuai dengan aman. Akan tetapi kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter ,kapal layar dan kapal yang sedang menangkap ikan boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai.

ii Lepas dari sub ayat (d)(i) kapal boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana sedang berlayar menuju atau dari sebuah pelabuhan ,instalasi atau bangunan lepas pantai ,stasion pandu atau setiap tempat yang berlokasi di dalm zona lalu lintas dekat pantai atau untuk menghindari bahaya mendadak.

(e). Kapal kecuali sebuah kapal yang sedang memotong atau kapal-kapal yang sedang memasuki atau sedang meninggalkan jalur ,pada umumnya tidak boleh memasuki zona pemisah atau memotong garis pemisah kecuali :

Dalam keadaan darurat untuk menghindari bahaya mendadak.

Untuk menangkap ikan pada zona pemisah.

(f). Kapal yang sedang berlayar di daerah dekat ujung tata pemisahan lalu lintas harus berlayar sangat hati-hati.

(g). Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari dirinya berlabuh jangkar didalam tata pemisahan lalu lintas atau di daerah-daerah dekat ujung-ujungnya.

(h). Kapal yang tidak menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus menghindarinya dengan ambang batas selebar-lebarnya.

(i). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh merintangi kapal jalan setiapa kapal lain yang sedang mengikuti jalur lalu lintas.

(j). Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter atau kaapl layar tidak boleh merintangi pelayaran aman dari kaapl tenaga yang sedang mengikuti suatu jalur lalu lintas.

(k). Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas apabila sedang tugas untuk memelihara keselamatan pelayaran/navigasi dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

(l). Kapal yang terbatas kemampuan olah geraknya apabila dalam tugas memasang ,merawat atau mengangkat kabel laut dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya

SEKSI II

SIKAP KAPAL DALAM KEADAAN SALING MELIHAT

ATURAN 11

PEMBERLAKUAN

Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam keadaan saling melihat.

ATURAN 12

KAPAL LAYAR

a). Bilamana dua kapal layar saling mendekati, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,satu diantarnya harus menghindari yang lain sebagai berikut :

Bilamana masing-masing dapat angin pada lambung yang berlainan maka kapal yang mendapat angin pada lambung kiri harus menghindar kapal lain.

Bilaman keduanya mendapat angin dari lambung yang sama maka kapal yang berada di atas angin harus mengindari kapal yang di bawah angin.

Jika kapal mendapat angin dari lambung yang kiri melihat kapal berada di atas angin dan tidak dapat memastikan apakah kapal lain itu mendapat angin dari lambung kiri atau kanannya ,ia harus menghindari kapal yang lain itu

(b). Untuk mengartikan aturan ini sisi diatas angin ialah sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar utama berada atau dalam hal kapal dengan layar persegi sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar muka belakang yang terbesar di pasang.

ATURAN 13

PENYUSULAN

(a). Lepas dari apapun yang tercantum dalam aturan-aturan bagian B seksi I dan II setiap kapal yang menyusul kapal lain ,harus menyimpangi kapal yang disusul.

(b). Kapal dianggap sedang menyusul ,bilamana mendekat kapal lain dari jurusan lebih dari 22.5 derajat di belakang arah melintang ,ialah dalam kedudukan sedemikain sehingga terhadap kapal yang disusul itu pada malah hari ia dapat melihat hanya penerangan buritan ,tetapi tidak satupun penerangan-penerangan lambungnya.

(c). Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah ia sedang menyusul kapal lain ia harus menganggap bahwa demikain halnya dan bertindak sesuai dengan hal itu.

(d). Setiap perubahan baringan selanjutnya antara kedua kapal itu tidak akan mengakibatkan kapal yang sedang menyusul sebagai kapal yang menyilang,dalam pengertian aturan-aturan ini atau membebaskan dari kewajibannya unutk tetap bebas dari kapal yang sedang di susul itu sampai akhirnya lewat dan bebas.

ATURAN 14

SITUASI BERHADAPAN

(a). Bilamana dua buah kapal tenaga sedang bertemu dengan haluan berhadapan atau hampir berhadapan, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,masing-masing kapal harus berubah haluannya ke kanan sehingga saling berpapasan pada lambung kirinya.

(b). Situasi demikian itu selalu dianggap ada ,bilamana sebuah kapal melihat kapal lain tepat atau hampir tepat di depannya pada malam hari ia dapat melihat penerangan tiang kapal lain segaris atau hampir segaris dan/atau kedua penerangan lambung pada siang hari dengan memperhatikan penyesuaian sudut pandangan dari kapal lain.

(c).Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah situasi demikian itu ada ,ia harus menganggap demikian halnya dan bertindak sesuai dengan keadaan itu.

ATURAN 15

SITUASI BERSILANGAN

Bilamana dua buah kapal tenaga bersilangan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,maka kapal yang disebelah kanannya terdapat kapal lain harus menyimpang dan jika keadaan mengijinkan menghindari memotong di depan kapal lain itu.

ATURAN 16

TINDAKAN KAPAL YANG MENYIMPANG

Setiap kapal yang oleh aturan-aturan ini di wajibkan menyimpangi kapal lain,sepanjang keadaan memungkinkan ,harus mengambil tindakan dengan segera dan nyata untuk dapat bebas dengan baik.

ATURAN 17

TINDAKAN KAPAL YANG BERTAHAN

(a). i. Apabila salah satu dari kedua kapal diharuskan menyimpang ,maka kapal yang lain harus mempertahankan haluan dan kecepatannya.

ii. Bagaimanapun juga ,kapal yang di sebut terakhir ini boleh bertindak untuk menghindari tubrukan dengan olah geraknya sendiri,segera setelah jelas baginya ,bahwa kapal yang diwajibkan menyimpang itu tidak mengambil tindakan yang sesuai dalam memenuhi aturan-aturan ini.

(b).Bilamana oleh sebab apapun, kapal yang diwajibkan mempertahankan haluan dan kecepatannya mengetahui dirinya berada terlalu dekat, sehingga tubrukan tidak terhindari lagi dengan tindakan oleh kapal yang menyimpang itu saja, ia harus mengambil tindakan sedemikain rupa,sehingga merupakan bantuan yang sebaik-baiknya untuk menghindari tubrukan.

(c). Kapal tenaga yang bertindak dalam situasi bersilangan sesuai dengan sub paragraph(a) (ii) aturan ini untuk menghindari tubrukan dengan kapal tenaga yang lain, jika keadaan mengijinkan, tidak boleh merubah haluannya ke kiri untuk kapal yang berada di lambung kirinya.

(d). Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyimpang dari kewajibannya untuk menghindari jalannya kapal lain.

ATURAN-18

TANGGUNG JAWAB ANTAR KAPAL

Kecuali bilamana aturan – aturan 9, 10, dan 13 mensyaratkan lain :

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan ;

Kapal layar.

(b). Kapal layar yang sedang berlayar harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ;

Kapal yang sedang menangkap ikan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan sedapat mungkin , harus menghindari :

Kapal yang tidak terkendalikan ;

Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas

(d). i. Setiap kapal, selain dari pada kapal yang tidak terkendalikan atau kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, jika keadaan mengijinkan, harus menghindarkan dirinya merintangi jalan aman sebuah kapal yang terkendala oleh saratnya yang sedang memperlihatkan isyarat-isyarat dalam aturan 28 ;

ii.Kapal yang terkendala oleh saratnya harus berlayar dengan kewaspadaan khusus dengan benar – benar memperhatikan keadaannya yang khusus itu.

(e). Pesawat terbang laut di air, pada umumnya harus tetap benar-benar bebas dari semua kapal dan menghindarkan dirinya merintangi navigasi kapal-kapal itu.

Sekalipun demikian jika ada bahaya tubrukan, pesawat terbang laut itu harus memenuhi aturan – aturan bagian ini.

SEKSI III

SIKAP KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

ATURAN 19

PERILAKU KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

(a). Aturan ini berlaku bagi kapal-kapal yang tidak saling melihat bilamana sedang berlayar disuatu daerah yang berpenglihatan terbatas atau didekatnya.

(b). Setiap kapal harus berjalan dengan kecepatan aman yang disesuaikan dengan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada.

Kapal tenaga harus menyiapkan mesin-mesinnya untuk segera dapat berolah gerak.

(c). Setiap kapal harus benar-benar memperhatikan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada bilamana sedang memenuhi aturan-aturan Seksi I bagian ini.

(d). Kapal yang mengindera kapal lain hanya dengan radar harus menentukan apakah sedang berkembang situasi saling mendekat terlalu rapat dan / atau apakah ada bahaya tubrukan. Jika demikian kapal itu harus melakukan tindakan dalam waktu yang cukup lapang, dengan ketentuan bahwa bilamana tindakan demikian terdiri dari perubahan haluan, maka sejauh mungkin harus dihindari hal-hal berikut :

i. Perubahan haluan kekiri terhadap kapal yang ada didepan arah melintang, selain dari pada kapal yang sedang disusul ;

ii. Perubahan haluan kearah kapal yang ada diarah melintang atau dibelakang arah melintang.

(e). Kecuali apabila telah yakin bahwa tidak ada bahaya tubrukan, setiap kapal yang mendengar isyarat kabut kapal lain yang menurut pertimbangannya berada didepan arah melintangnya, atau yang tidak dapat menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat hingga kapal yang ada didepan arah melintangnya harus mengurangi kecepatannya serendah mungkin yang dengan kecepatan itu kapal tersebut dapat mempertahankan haluannya.

Jika dianggap perlu, kapal itu harus meniadakan kecepatannya sama sekali dan bagaimanapun juga berlayar dengan kewaspadaan khusus hingga bahaya tubrukan telah berlalu.

BAGIAN C

PENERANGAN DAN SOSOK BENDA

ATURAN 20

P E M B E R L A K U A N

(a). Aturan-aturan didalam bagian ini harus dipenuhi dalam segala keadaan cuaca.

(b). Aturan-aturan tentang penerangan-penerangan harus dipenuhi semenjak saat matahari terbenam sampai saat matahari terbit, dan selama jangka waktu tersebut penerangan-penerangan lain tidak boleh diperlihatkan kecuali apabila penerangan-penerangan demikian tidak dapat terkelirukan dengan penerangan-penerangan yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini atau tidak melemahkan daya tampak atau sifat khususnya atau mengganggu terselenggaranya pengamatan yang layak.

(c). Penerangan-penerangan yang ditentukan oleh aturan-aturan ini, jika dipasang harus juga diperlihatkan sejak saat matahari terbit sampai saat matahari terbenam dalam keadaan penglihatan terbatas dan boleh diperlihatkan dalam semua keadaan bilamana dianggap perlu

(d). Aturan-aturan tentang sosok-sosok benda harus dipenuhi pada siang hari.

(e). Penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

ATURAN 21

D E F I N I S I

(a). “ Penerangan tiang “ berarti penerangan putih yang ditempatkan disumbu membujur kapal, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 225º dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dikedua sisi kapal.

(b). “ Penerangan lambung “ berarti penerangan hijau dilambung kanan dan penerangan merah dilambung kiri, masing-masing memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 112,5º dan ditempatkan sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dimasing-masing sisinya.

Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan lambung itu boleh digabungkan dalam satu lentera yang ditempatkan disumbu membujur kapal.

(c). “ Penerangan buritan “ berarti penerangan putih yang ditempatkan sedekat mungkin dengan buritan, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 135º dan dipasang sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya 67,5º dari arah lurus kebelakang dimasing-masing sisi kapal.

(d). “ Penerangan tunda “ berarti penerangan kuning yang mempunyai sifat-sifat khusus yang sama dengan “ Penerangan buritan “ yang didefinisikan didalam paragrap (c).

(e). “ Penerangan kedip “ berarti penerangan yang berkedip-kedip dengan selang waktu teratur dengan frekuensi 120 kedipan atau lebih setiap menit.

(f). “ Penerangan keliling “ berarti penerangan yang memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 360º.

ATURAN 22

JARAK TAMPAK PENERANGAN

Penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan-aturan ini harus mempunyai kuat cahaya sebagaimana yang disebutkan secara terperinci didalam didalam Seksi 8 Lampiran I untuk dapat kelihatan dari jarak-jarak minimum berikut :

(a). Di kapal-kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih :

– Penerangan tiang 6 mil ;

– Penerangan lambung 3 mil ;

– Penerangan buritan 3 mil ;

– Penerangan tunda 3 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 3 mil.

(b). Di kapal-kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 50 meter :

– Penerangan tiang 5 mil, kecuali apabila panjang kapal itu kurang dari 20 meter 3 mil ;

– Penerangan lambung 2 mil

– Penerangan buritan 2 mil

– Penerangan tunda 2 mil

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(c). Di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter :

– Penerangan tiang 2 mil ;

– Penerangan lambung 1 mil ;

– Penerangan buritan 2 mil ;

– Penerangan tunda 2 mil ;

– Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(d). Di kapal-kapal yang terbenam sebagian atau benda-banda yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas :

– Penerangan keliling putih 3 mil.

ATURAN 23

KAPAL TENAGA YANG SEDANG BERLAYAR

(a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan tiang di depan ;

Penerangan tiang kedua di belakang dan lebih tinggi dari pada penerangan tiang depan kecuali kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter, tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan.

(b).Kapal bantalan udara bilamana sedang beroperasi dalam bentuk tanpa berat benaman disamping penerangan-penerangan yang ditentukan di dalam paragrap (a) aturan ini, harus memperlihatkan penerangan keliling kuning kedip.

(c). i. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh memperlihatkan penerangan keliling putih dan penerangan-penerangan lambung.

ii. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 7 meter yang kecepatan meximumnya tidak lebih dari 7 mil setiap jam, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, memperlihatkan penerangan keliling putih dan jika mungkin, harus juga memperlihatkan penerangan-penerangan lambung.

Penerangan tiang atau penerangan keliling putih dikapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter boleh dipindahkan dari sumbu membujur kapal jika pemasangan disumbu membujur tidak dapat dilakukan,dengan ketentuan bahwa penerangan-penerangan lambung digabungkan dalam satu lentera yang harus diperlihatkan disumbu membujur kapal atau ditempatkan sedekat mungkin disumbu membujur yang sama dengan penerangan tiang atau penerangan keliling putih.

ATURAN 24

MENUNDA DAN MENDORONG

(a). Kapal tenaga bilamana sedang menunda, harus memperlihatkan :

Penerangan pengganti peneranganyang ditentukan didalam aturan (23) (a) (i) atau (a) (ii), dua penerangan tiang yang bersusun tegak.

Bilamana panjang tundaan diukur dari buritan kapal yang sedang menunda sampai keujung belakang tundaan lebih dari 200 meter, tiga penerangan yang demikian itu, bersusun tegak lurus ;

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan ;

Penerangan tunda, tegak lurus diatas penerangan buritan ;

Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(b).Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam suatu unit berangkai, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan 23.

(c).Kapal tenaga bilamana sedang mendorong maju atau sedang menggandeng kecuali didalam hal suatu unit berangkai harus memperlihatkan :

i. Sebagai pengganti penerangan yang ditentukan didalam aturan 23 (a) (i) atau (a) (ii) dua penerangan tiang yang bersusun tegak lurus ;

ii. Penerangan-penerangan lambung ;

iii. Penerangan buritan.

(d).Kapal tenaga yang dikenai paragrap (a) atau (c) aturan ini, harus juga memenuhi aturan 23 (a) (ii) .

(e).Kapal atau benda yang sedang ditunda, selain dari pada yang dinyatakan didalam paragrap (g) aturan ini harus memperlihatkan :

i. Penerangan-penerangan lambung ;

ii. Penerangan buritan ;

iii.Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(f).Dengan ketentuan bahwa berapapun jumlah kapal yang sedang digandeng atau didorong dalam suatu kelompok, harus diberi penerangan sebagai satu kapal :

i. Kapal yang sedang didorong maju yang bukan merupakan bagian dari suatu unit berantai, harus memperlihatkan penerangan-penerangan lambung di ujung depan ;

ii. Kapal yang sedang digandeng harus memperlihatkan penerangan buritan dan ujung depan, penerangan-penerangan lambung.

(g) Kapal atau benda yang terbenam sebagian, atau gabungan dari kapal-kapal atau benda-benda demikian yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas, harus memperlihatkan :

Jika lebarnya kurang dari 25 meter, satu penerangan keliling putih diujung depan atau didekatnya dan satu diujung belakang atau didekatnya kecuali apabila naga umbang itu tidak perlu memperlihatkan penerangan diujung depan atau didekatnya ;

Jika lebarnya 25 meter atau lebih, dua penerangan keliling putih tambahan diujung-ujung paling luar dari lebarnya atau didekatnya ;

Jika panjangnya lebih dari 100 meter, penerangan-penerangan keliling putih tambahan diantara penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) dan (ii) sedemikian rupa hingga jarak antara penerangan-penerangan itu tidak boleh lebih dari 100 meter ;

Sosok belah ketupat di atau didekat ujung paling belakang dari kapal atau benda paling belakang yang sedang ditunda dan jika panjang tundaan itu lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya serta ditempatkan sejauh mungkin di depan.

(h). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal atau benda yang sedang ditunda memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (e) atau (g) aturan ini, semua upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menerangi kapal atau benda yang ditunda itu atau setidak-tidaknya menunjukan adanya kapal atau benda demikian itu.

(i). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal yang tidak melakukan operasi-operasi penundaan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (c) aturan ini, maka kapal demikian itu tidak diisyaratkan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan itu bilamana sedang menunda kapal lain dalam bahaya atau dalam keadaan lain yang membutuhkan pertolongan. Segala upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menunjukan sifat hubungan antara kapal yang sedang menunda dan kapal yang sedang ditunda sebagaimana yang diharuskan dan dibolehkan oleh aturan 36 terutama untuk mrnerangi tali tunda.

ATURAN 25

KAPAL LAYAR YANG SEDANG BERLAYAR DAN

KAPAL YANG SEDANG BERLAYAR DENGAN DAYUNG

(a). Kapal layar yang sedang berlayar yang sedang berlayar harus memperlihatkan :

Penerangan-penerangan lambung ;

Penerangan buritan.

(b). Di kapal layar yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh digabungkan didalam satu lentera yang dipasang dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(c). Kapal layar yang sedang berlayar, disamping penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini boleh memperlihatkan dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang diatas merah dan yang dibawah hijau, tetapi penerangan-penerangan ini tidak boleh diperlihatkan bersama-sama dengan lentera kombinasi yang dibolehkan paragrap (b) aturan ini.

(d). i. Kapal layar yang panjangnya kurang dari 7 meter, jika mungkin harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) aturan ini, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal layar itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang cukup untuk mencegah tubrukan.

ii. Kapal yang sedang berlayar dengan dayung boleh memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan ini bagi kapal-kapal layar, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal yang sedang berlayar dengan dayung itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang memadai untuk mencegah tubrukan.

ATURAN 26

KAPAL IKAN

(a). Kapal yang sedang menangkap ikan, apakah sedang berlayar atau berlabuh jangkar hanya boleh memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan oleh aturan ini.

(b). Kapal yang sedang mendogol, maksudnya sedang menarik pukat tarik atau perkakas lain di dalam air digunakan sebagai alat menangkap ikan, harus memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas hijau dan yang di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegak lurus, kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini boleh memperlihatkan keranjang ;

Penerangan tiang lebih kebelakang dan lebih tinggi dari pada penerangan hijau keliling, kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian itu, tetapi boleh memperlihatkannya ;

Bilaman mempunyai laju di air, sebagai tambahan atas penerangan- penerangan yang ditentukan dalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan, kecuali yang sedang mendogol harus memperlihatkan :

Dua penerangan keliling bersusun tegaklurus, yang di atas merah dan di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegaklurus. Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini, boleh memperlihatkan keranjang ;

Bilamana mana ada alat penangkap ikan yang terjulur mendatar dari kapal lebih dari 150 meter, penerangan putih keliling atau kerucut yang titik puncaknya ke atas diarah alat penangkap ;

Bilamana mempunyai kecepatan di air, disamping penerangan- penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan dekat sekali dengan kapal-kapal lain yang menangkap ikan, boleh memperlihatkan isyarat-isyarat tambahan yang diuraikan dengan jelas didalam Lampiran II Peraturan ini.

(e). Bilamana sedang tidak menangkap ikan tidak boleh memperlihatkan penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan ini tetapi hanya penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang panjangnya sama dengan panjang kapal itu.

ATURAN 27

KAPAL YANG TIDAK TERKENDALIKAN ATAU

YANG KEMAMPUAN OLAH GERAKNYA TERBATAS

(a). Kapal yang tidak terkendalikan harus memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Dua bola atau sosok benda yang serupa, bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ;

Bilamana mempunyai laju di air sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan.

(b).Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kecuali kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, harus memperlihatkan :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang tengah harus putih ;

Tiga sosok benda bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya. Sosok benda yang tertinggi dan yang terendah harus bola, sedangkan yang di tengah sosok belah ketupat ;

Bilamana mempunyai laju di air, penerangan atau penerangan-penerangan tiang, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) ;

Bilamana berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam sub paragrap (i) dan (ii) penerangan, penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30.

(c). Kapal tenaga yang sedang melaksanakan pekerjaan penundaan sedemikian rupa sehingga sangat membatasi kemampuan kapal yang sedang menunda dan tundaannya itu menyimpang dari haluannya yang ditentukan di dalam Aturan 24 (a) harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam sub paragrap (b) (i) dan (ii) Aturan ini.

(d). Kapal yang sedang melaksanakan pengerukan atau pekerjaan di dalam air, bilamana kemampuan olah geraknya terbatas, harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam su paragrap (b) (i), (ii) dan (iii) Aturan ini dan sebagai tambahan bilamana ada rintangan ,harus memperlihatkan :

Dua penerangan merah keliling atau dua bola bersusun tegak lurus untuk menunjukkan sisi tempat rintangan itu berada ;

Dua penerangan hijau keliling atau dua sosok belah ketupat bersusun tegak lurus untuk menunjukan sisi yang boleh dilewati kapal lain ;

Bilaman berlabuh jangkar, penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap ini sebagai ganti penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan 30.

(e) Bilaman ukuran kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan penyelaman itu membuatnya tidak mampu memperlihatkan semua penerangan dan sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap (d) Aturan ini, harus diperlihatkan yang berikut ini :

Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus dis suatu tempat yang diperlihatkan sejelas-jelasnya. Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang di tengah harus putih ;

Tiruan bendera kaku “A” dari Kode Internasional yang tingginya tidak kurang dari 1 meter. Langkah-langkah harus dilakukan untuk menjamin agar tiruan itu dapat kelihatan keliling.

(f). Kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal tenaga di dalam Aturan 23 atau atas penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang sedang berlabuh jangkar di dalam Aturan 30,mana yang sesuai harus memperlihatkan tiga penerangan hijau keliling atau tiga bola. Salah atu dari penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda ini harus diperlihatkan di puncak tiang depan atau di dekatnya dan satu dimasing-masing ujung andang-andang depan. Penerangan-penerangan atau sosok benda ini menunjukan bahwa berbahayalah kapal lain yang mendekat dalam jarak 1000 meter dari pembersih ranjau itu.

(g). Kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, kecuali kapal-kapal yang sedang menjalankan pekerjaan penyelaman, tidak wajib memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan ini.

(h). Isyarat-isyarat yang yang ditentukan di dalam Aturan ini bukan isyarat-isyarat dari kapal-kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan. Isyarat-isyarat demikian tercantum di dalam Lampiran IV Peraturan ini.

ATURAN 28

KAPAL YANG TERKENDALA OLEH SARATNYA

Kapal yang terkendala oleh saratnya, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal-kapal tenaga didalam Aturan 23, boleh memperlihatkan tiga penerangan merah keliling bersusun tegak lurus, atau sebuah silinder di tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

ATURAN 29

KAPAL PANDU

(a). Kapal yang sedang bertugas memandu harus memperlihatkan :

Di puncak tiang atau di dekatnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas putih dan yang di bawah merah ;

Bilamana sedang berlayar, sebagai tambahan, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan ;

Bilaman berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30 bagi kapal-kapal yang berlabuh jangkar.

(b). Kapal pandu bilaman tidak sedang bertugas memandu harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang serupa sesuai dengan panjangnya.

ATURAN 30

KAPAL YANG BERLABUH JANGKAR DAN KAPAL YANG KANDAS

(a). Kapal yang berlabuh jangkar harus memperlihatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya :

Di bagian depan, penerangan putih keliling atau satu bola ;

Di buritan atau di dekatnya dan di suatu ketinggian yang lebih rendah dari pada penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), sebuah penerangan putih keliling.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 50 meterboleh memperlihatkan sebuah penerangan putih keliling di suatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini.

(c). Kapal yang berlabuh jangkar boleh juga menggunakan penerangan-penerangan kerja atau penerangan-penerangan yang sepadan yang ada di kapal untuk menerangi geladak-geladaknya, sedangkan kapal yang panjangnya 100 meter ke atas harus memperlihatkan penerangan-penerangan demikian itu.

(d). Kapal yang kandas harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini dan sebagai tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya :

Dua penerangan merah bersusun tegak lurus ;

Tiga bola bersusun tegak lurus.

(e). Kapal yang panjangnya kurang dari 7 meter bilamana berlabuh jangkar, tidak didalam atau didekat alur pelayaran sempit, air pelayaran atau tempat berlabuh jangkar, atau tempat yang biasa dilayari oleh kapal-kapal lain, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (a) dan (b) Aturan ini.

(f). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, bilamana kandas, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam su paragrap (d) (i) dan (ii) Aturan ini.

ATURAN 31

PESAWAT TERBANG LAUT

Apabila pesawat terbang laut tidak mampu memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda dengan sifat-sifat atau kedudukan-kedudukan yang ditentukan didalam aturan-aturan bagian ini, pesawat terbang laut itu harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benba yang sifat-sifat dan kedudukan-kedudukannya semirip mungkin dengan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda.

BAGIAN D

ISYARAT BUNYI DAN ISYARAT CAHAYA

ATURAN 32

D E F I N I S I

(a). Kata “ suling “ berarti alat isyarat bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan yang ditentukan dan yang memenuhi perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan-peraturan ini.

(b). Istilah “ tiup pendek “ berarti tiupan yang lamanya kira-kira satu detik ;

(c). Istilah “ tiup panjang “ berarti tiupan yang lamanya 4 sampai 6 detik.

ATURAN 33

PERLENGKAPAN UNTUK ISYARAT BUNYI

(a). Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih harus dilengkapi dengan suling dan genta serta kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih sebagai tambahan, harus dilengkapi dengan gong yang nada dan bunyinya tidak dapat terkacaukan dengan nada dan bunyi genta. Suling, genta dan gong itu harus memenuhi, perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan ini.

Genta atau gong atau kedua-duanya boleh diganti dengan perlengkapan lain yang mempunyai sifat-sifat khas yang sama dengan bunyi masing-masing, dengan ketentuan bahwa alat-alat isyatar yang ditentukan itu harus selalu mungkin dibunyikan dengan tangan.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memasang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini, tetapi jika tidak memasangnya, kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang menghasilkan isyarat bunyi yang efisien.

ATURAN 34

ISYARAT OLAH GERAK DAN ISYARAT PERINGATAN

(a). Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling melihat, kapal tenaga yang sedang berlayar, bilamana sedang berolah gerak sesuai dengan yang diharuskan atau dibolehkan atau disyaratkan oleh Aturan-aturan ini, harus menunjukan olah gerak tersebut dengan isyarat-isyarat berikut dengan menggunakan sulingnya :

– Satu tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekanan “ ;

– Dua tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekiri “ ;

– Tiga tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “.

(b). Setiap kapal boleh menambah isyarat-isyarat suling yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini dengan isyarat-isyarat cahaya, diulang-ulang seperlunya sementara olah gerak sedang dilakukan :

Isyarat-isyarat cahaya ini harus mempunyai arti berikut :

Satu kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekanan “ ;

Dua kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekiri “ ;

Tiga kedip untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “ ;

Lamanya masing-masing kedip harus kira-kira satu detik, selang waktu antara kedip-kedip itu harus kira-kira satu detik, serta selang waktu antara isyarat-isyarat beruntun tidak boleh kurang dari 20 detik ;

Penerangan yang digunakan untuk isyarat ini jika dipasang, harus penerangan putih keliling, dapat kelihatan dari jarak minimum 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

(c). Bilamana dalam keadaan saling melihat dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit :

Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal lain, sesuai dengan Aturan 9 (e) (i) harus menyatakan maksudnya itu dengan isyarat berikut dengan sulingnya :

– Dua tiup panjang diikuti satu tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kanan anda “ ;

– Dua tiup panjang diikuti dua tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kiri anda “.

Kapal yang sedang siap untuk disusul itu bilamana sedang melakukan tindakan sesuai dengan Aturan 9 (e) (i), harus menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat dengan sulingnya :

-Satu tiup panjang, satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek dengan tata urutan tersebut.

(d). Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan saling melihat sedang saling mendekat dan karena suatu sebab, apakah salah satu dari kapal-kapal itu atau kedua-duanya tidak berhasil memahami maksud-maksud atau tindakan-tindakan kapal yang lain atau dalam keadaan ragu-ragu apakah kapal yang lain sedang melakukan tindakan yang memadai untuk menghindari tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu harus segera menyatakan keragu-raguan demikian dengan memperdengarkan sekurang-kurangnya 5 tiup pendek dan cepat dengan suling. Isyarat demikian boleh ditambah dengan isyarat cahaya yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip, pendek dan cepat.

(e). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur pelayaran atau air pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain dapat terhalang oleh alingan, harus memperdengarkan satu tiup panjang.

Isyarat demikian itu harus disambut dengan tiup panjang oleh setiap kapal yang sedang mendekat yang sekiranya ada didalam jarak dengar disekitar tikungan atau dibalik alingan itu.

(f). Jika suling-suling dipasang di kapal secara terpisah dengan jarak lebih dari 100 meter, hanya satu suling saja yang harus digunakan untuk memberikan isyarat olah gerak dan isyarat peringatan.

ATURAN 35

ISYARAT BUNYI DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

Didalam atau didekat daerah yang berpenglihatan terbatas baik pada siang hari atau pada malam hari, isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Aturan ini harus digunakan sebagai berikut :

(a). Kapal tenaga yang mempunyai laju di air memperdengarkan satu tiup panjang dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(b). Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi berhenti dan tidak mempunyai laju di air harus memperdengarkan dua tiup panjang beruntun dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit dan selang waktu tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.

(c). Kapal yang tidak terkendalikan, kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kapal yang terkendala oleh saratnya, kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan dan kapal yang sedang menunda atau mendorong kapal lain sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini harus memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup panjang diikuti oleh dua tiup pendek dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana berlabuh jangkar dan kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas bilamana sedang menjalankan pekerjaannya dalam keadaan berlabuh jangkar, sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan dadalam paragrap (c) Aturan ini.

(e). Kapal yang ditunda atau jika yang kapal ditunda itu lebih dari satu, maka kapal yang paling belakang dari tundaanitu jika diawaki, harus memperdengarkan 4 tiup beruntun, yakni 1 tiup panjang diikuti 3 tiup pendek, dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit. Bilamana mungkin, isyarat ini harus diperdengarkan oleh kapal yang menunda.

(f). Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam kesatuan gabungan, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan harus memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini.

(g). Kapal yang berlabuh jangkar harus membunyikan genta dengan cepat selama kira-kira 5 detik dengan selang waktu tidak lebih dari 1 menit.

Di kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih genta itu harus dibunyikan dibagian depan kapal dan segera setelah pembunyian genta, gong harus dibunyikan cepat-cepat selama kira-kira 5 detik dibagian belakang kapal.

Kapal yang berlabuh jangkar, sebagai tambahan boleh memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek untuk mengingatkan kapal lain yang mendekat mengenai kedudukannya dan adanya kemungkinan tubrukan.

(h). Kapal yang kandas harus memperdengarkan isyarat genta dan jika dipersyaratkan, isyarat gong yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, dan sebagai tambahan harus memperdengarkan tiga ketukan terpisah dan jelas dengan genta sesaat sebelum dan segera setelah pembunyian genta yang cepat itu. Kapal yang kandas, sebagai tambahan boleh memperdengarkan isyarat suling yang sesuai.

(i). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memperdengarkan isyarat-isyarat tersebut diatas, tetapi jika tidak memperdengarkannya, kapal itu harus memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(j). Kapal pandu bilamana sedang bertugas memandu, sebagai tambahan atas isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragraph (a), (b) atau (g) Aturan ini boleh memperdengarkannya isyarat pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek.

ATURAN 36

ISYARAT UNTUK MENARIK PERHATIAN

Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain, setiap kapal boleh menggunakan isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak dapat terkelirukan dengan setiap isyarat yang diharuskan atau dibenarkan dimanapun didalam Aturan ini, atau boleh mengarahkan berkas cahaya lampu kejurusan manapun. Sembarang cahaya yang digunakan untuk menarik perhatian kapal lain harus sedemikian rupa sehingga tidak dapat terkelirukan dengan alat bantu navigasi manapun. Untuk memenuhi maksud Aturan ini penggunaan penerangan berselang-selang atau penerangan berputar dengan intensitas tinggi, misalnya penerangan-penerangan stroba, harus dihindarkan.

ATURAN 37

ISYARAT BAHAYA

Bilaman kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan, kapal itu harus menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Lampiran IV Peraturan ini.

BAGIAN E

PEMBEBASAN – PEMBEBASAN

ATURAN 38

P E M B E B A S A N

Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi syarat-syarat Peraturan internasional tentang pencegahan tubrukan di laut 1960 yang lunasnya diletakkan sebelum peraturan ini berlaku atau yang pada tanggal itu dalam tahapan pembangunan yang sesuai, dibebaskan dari kewajiban untuk memenuhi Peraturan ini sebagai berikut :

(a). Pemasangan penerangan-penerangan dengan jarak yang ditentukan didalam Aturan 22, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya aturan ini.

(b). Pemasangan penerangan-penerangan dengan perincian warna sebagaimana yang ditentukan didalam seksi 7 Lampiran I Aturan ini, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan.

(c). Penempatan kembali penerangan-penerangan sebagai akibat dari pengubahan satuan-satuan imperial kesatuan-satuan metrik dan pembulatan angka-angka ukuran, merupakan pembebasan tetap.

(d). i. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 150 meter sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini merupakan pembebasan tetap.

ii. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya 150 meter atau lebih sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.

(e). Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(f). Penempatan kembali penerangan-penerangan lambung, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (g) dan 3 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(g). Syarat-syarat tentang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam Lampiran III Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(h). Penempatan kembali penerangan-penerangan keliling, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 9 (b) Lampiran I Peraturan ini, merupakan pembebasan tetap.

Maritime Info – Definisi pencemaran laut Marpol 73/78

DEFINISI-DEFINISI BAHAN PENCEMAR
Bahan-bahan pencemar yang berasal dari kapal terdiri dari muatan yang dimuat oleh kapal, bahan bakar yang digunakan untuk alat propulsi dan alat lain di atas kapal dan hasil atau akibat kegiatan lain di atas kapal seperti sampah dan segera bentuk kotoran.

Definisi bahan-bahan pencemar dimaksud berdasarkan MARPOL 73/78 adalah sebagai berikut :

  1. “Minyak” adalah semua jenis minyak bumi seperti minyak mentah (crude oil) bahan bakar (fuel oil), kotoran minyak (sludge) dan minyak hasil penyulingan (refined product)
  2. “Naxious liquid substances”. Adalah barang cair yang beracun dan berbahaya hasil produk kimia yang diangkut dengan kapal tanker khusus (chemical tanker)

Bahan kimia dimaksud dibagi dalam 4 kategori (A,B,C, dan D) berdasarkan derajad toxic dan kadar bahayanya.

Kategori A : Sangat berbahaya (major hazard). Karena itu muatan termasuk bekas pencuci tanki muatan dan air balas dari tanki muatan tidak boleh dibuang ke laut.

Kategori B : Cukup berbahaya. Kalau sampai tumpah ke laut memerlukan penanganan khusus (special anti pollution measures).

Kategori C : Kurang berbahaya (minor hazard) memerlukan bantuan yang agak khusus.

Kategori D : Tidak membahayakan, membutuhkan sedikit perhatian dalam menanganinya.

  1. “Hamfull substances” Adalah barang-barang yang dikemas dalam dan membahayakan lingkungan kalau sampai jatuh ke laut.
  2. Sewage”. Adalah kotoran-kotoran dari toilet, WC, urinals, ruangan perawatan, kotoran hewan serta campuran dari buangan tersebut.
  3. “Garbage” Adalah tempat sampah-sampah dalam bentuk sisa barang atau material hasil dari kegiatan di atas kapal atau kegiatan normal lainnya di atas kapal.

Peraturan pencegahan pencemaran laut diakui sangat kompleks dan sulit dilaksanakan secara serentak, karena itu marpol Convention diberlakukan secara bertahap. Tanggal 2 Oktober 1983 untuk Annex I (oil). Disusul dengan Annex II (Noxious Liquid Substances in Bulk) tanggal 6 April 1987. Disusul kemudian Annex V (Sewage), tanggal 31 31 Desember 1988, dan Annex III (Hamful Substances in Package) tanggal 1 juli 1982. Sisa Annex IV (Garbage) yang belum berlaku Internasional sampai saat ini.

Annex I MARPOL 73/78 yang memuat peraturan untuk mencegah pencemaran oleh tumpahan minyak dari kapal sampai 6 Juli 1993 sudah terdiri dari 23 Regulation.

Peraturan dalam Annex I menjelaskan mengenai konstruksi dan kelengkapan kapal untuk mencegah pencemaran oleh minyak yang bersumber dari kapal, dan kalau terjadi juga tumpahan minyak bagaimana cara supaya tumpahan bisa dibatasi dan bagaimana usaha terbaik untuk menanggulanginya.

Untuk menjamin agar usaha mencegah pencemaran minyak telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh awak kapal, maka kapal-kapal diwajibkan untuk mengisi buku laporan (Oil Record Book) yang sudah disediakan menjelaskan bagaimana cara awak kapal menangani muatan minyak, bahan bakar minyak, kotoran minyak dan campuran sisa-sisa minyak dengan cairan lain seperti air, sebagai bahan laporan dan pemeriksaan yang berwajib melakukan kontrol pencegahan pencemaran laut.

Kewajiban untuk menigisi “Oli Record Book” dijelaskan di dalam Reg. 20.

Appendix I Daftar dari jenis minyak (list of oil) sesuai yang dimaksud dalam MARPOL 73/78 yang akan mencemari apabila tumpahan ke laut.

Appendix II, Bentuk sertifikat pencegahan pencemaran oleh minyak atau “IOPP Certificate” dan suplemen mengenai data konstruksi dan kelengkapan kapal tanker dan kapal selain tanker. Sertifikat ini membuktikan bahwa kapal telah diperiksa dan memenuhi peraturan dalam reg. 4. “Survey and inspection” dimana struktur dan konstruksi kapal, kelengkapannya serta kondisinya memenuhi semua ketentuan dalam Annex I MARPOL 73/78.

Appendix III, Bentuk “Oil Record Book” untuk bagian mesin dan bagian dek yang wajib diisi oleh awak kapal sebagai kelengkapan laporan dan bahan pemeriksaan oleh yang berwajib di Pelabuhan.

Maritime info Mengenai Annex I – VI

Mengenai Anne I – VI

Annex I Pencemaran oleh minyak Mulai berlaku 2 Oktober 1983

Annex II Pencemaran oleh Cairan Beracun (Nuxious Substances) dalam bentuk Curah Mulai berlaku 6 April 1987

Annex III Pencemaran oleh barang Berbahaya (Hamful Sub-Stances) dalam bentuk Terbungkus Mulai berlaku 1 Juli 1991

Annex IV Pencemaran dari kotor Manusia /hewan (Sewage)

diberlakukan 27 September 2003

Annex V Pencemaran Sampah Mulai berlaku 31 Desember 1988

Annex VI Pencemaran udara belum diberlakukan

Sejarah Tentang Iwan Fals

 Iwan Fals

Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir 3 September 1961 di Jakarta) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.

Lewat lagu-lagunya, ia ‘memotret’ suasana sosial kehidupan Indonesia (terutama Jakarta) di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.

Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul, namun album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Album ini sekarang menjadi buruan para kolektor serta fans fanatik Iwan Fals.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records, tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Ia kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Saat acara Manasuka Siaran Niaga disiarkan di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal karirnya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Belakangan Iwan Fals juga mengakui kalau pada saat itu dia sendiri juga tidak tertarik untuk memasukkan lagu-lagu ini ke dalam album.[rujukan?]

Rekaman lagu-lagu yang tidak dipasarkan tersebut kemudian sempat diputar di sebuah stasiun radio yang sekarang sudah tidak mengudara lagi. Iwan Fals juga pernah menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam beberapa konser musik, yang mengakibatkan dia berulang kali harus berurusan dengan pihak keamanan dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikan dapat mengganggu stabilitas negara.[rujukan?] Beberapa konser musiknya pada tahun 80-an juga sempat disabotase dengan cara memadamkan aliran listrik dan pernah juga dibubarkan secara paksa hanya karena Iwan Fals membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa saat itu.

Pada bulan April tahun 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak kejadian itu, Iwan Fals dan keluarganya sering mendapatkan teror.[rujukan?] Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih menyimpan rekaman lagu-lagu ini, dan sekarang menjadi koleksi yang sangat berharga.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang didukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.[rujukan?]

Setelah kontrak dengan SWAMI yang menghasilkan dua album (SWAMI dan SWAMI II) berakhir, dan disela Kantata (yang menghasilkan Kantata Takwa dan Kantata Samsara), Iwan Fals masih meluncurkan album-album solo maupun bersama kelompok seperti album Dalbo yang dikerjakan bersama sebagian mantan personil SWAMI.

Sejak meluncurnya album Suara Hati pada 2002, Iwan Fals telah memiliki kelompok musisi pengiring yang tetap dan selalu menyertai dalam setiap pengerjaan album maupun konser. Menariknya, dalam seluruh alat musik yang digunakan baik oleh Iwan fals maupun bandnya pada setiap penampilan di depan publik tidak pernah terlihat merek maupun logo. Seluruh identitas tersebut selalu ditutupi atau dihilangkan. Pada panggung yang menjadi dunianya, Iwan Fals tidak pernah mengizinkan ada logo atau tulisan sponsor terpampang untuk menjaga idealismenya yang tidak mau dianggap menjadi wakil dari produk tertentu.[rujukan?]

Keluarga

Iwan lahir dari Lies (ibu) dan mempunyai ayah tiri Haryoso (almarhum). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini, yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991. Sebelumnya Cikal juga pernah dibuatkan lagu dengan judul Anissa pada tahun 1986. Rencananya lagu ini dimasukkan dalam album Aku Sayang Kamu, namun dibatalkan. Lirik lagu ini cukup kritis sehingga perusahaan rekaman batal menyertakannya. Pada cover album Aku Sayang Kamu terutama cetakan awal, pada bagian penata musik masih tertulis kata Anissa.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktivitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok Jawa Barat. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.(

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.

Sejak meninggalnya Galang Rambu Anarki, warna dan gaya bermusik Iwan Fals terasa berbeda. Dia tidak segarang dan seliar dahulu. Lirik-lirik lagunya terkesan lebih dewasa dan puitis.[rujukan?] Iwan Fals juga lebih banyak membawakan lagu-lagu bertema cinta baik karangannya sendiri maupun dari orang lain.

Pada tanggal 22 Januari 2003, Iwan Fals dianugrahi seorang anak lelaki yang diberi nama Rayya Rambu Robbani. Kelahiran putra ketiganya ini seakan menjadi pengganti almarhum Galang Rambu Anarki dan banyak memberi inspirasi dalam dunia musik seorang Iwan Fals.[rujukan?]

Di luar musik dan lirik, penampilan Iwan Fals juga berubah total. Saat putra pertamanya meninggal dunia Iwan Fals mencukur habis rambut panjangnya hingga gundul. Sekarang dia berpenampilan lebih bersahaja, rambut berpotongan rapi disisir juga kumis dan jenggot yang dihilangkan. Dari sisi pakaian, dia lebih sering menggunakan kemeja yang dimasukkan pada setiap kesempatan tampil di depan publik, sangat jauh berbeda dengan penampilannya dahulu yang lebih sering memakai kaus oblong bahkan bertelanjang dada dengan rambut panjang tidak teratur dan kumis tebal.

Peranan istrinya juga menjadi penting sejak putra pertamanya tiada. Rossana menjadi manajer pribadi Iwan Fals yang mengatur segala jadwal kegiatan dan kontrak. Dengan adanya Iwan Fals Manajemen (IFM), Fals lebih profesional dalam berkarir.

Cerpen Rahasia di Balik Rintik Hujan

Cerpen Karangan:      

Langit mendung sore itu. Gumpalan abu-abu gelap seperti sudah mewanti-wanti semua yang dinaunginya bahwa sebentar lagi ia akan menumpahkan bawaannya.

Eros bukannya tidak menyadari itu semua. Ia tahu jelas. Ia pun sedang memerhatikan orang-orang yang berjalan cepat dari balik kaca sebuah kedai kopi yang ia diami hampir satu jam terakhir. Ia membenarkan posisi duduknya. Dan kemudian menyesap hangat gelas kopi ketiganya sore itu. Bergelas-gelas kopi yang telah ia teguk masih belum bisa membenarkan benang-benang kusut di pikirannya saat ini. Hanya penghibur sementara. Dan ketika tetes-tetes kopi itu hilang ke dalam pencernaannya, ia seketika bisa melihat adegan-adegan yang dengan susah payah berusaha ia lupakan dengan jelas. Seperti sebuah proyektor yang menampilkan gambar-gambarnya. Memaksa untuk diperhatikan.

Ia menyesap lagi kopinya.
Di mulai dari yang terbaru. Yang terhangat. Yang menjadi alasannya berada di kedai kopi ini. Aga mengiriminya pesan singkat berisi perintah untuk ada disini jam dua siang. “ada yang perlu kita bicarakan.” Tutupnya. Aga adalah teman sebangku Eros sejak SMP. Dia adalah the partner in crime milik Eros. Yang setia menemaninya di ruang BK jika ia terkena masalah. Menelan makian-makian yang sama dari gurunya. Di balik semua itu, mereka memiliki obsesi yang sama persis: mendirikan sebuah usaha kain batik. Aneh memang. Saat semua orang bermimpi menjadi raja minyak, pemain saham sukses, dan omong kosong lainnya, Eros dan Aga hanya ingin melestarikan budaya legendaris asal negrinya. Karena mereka tau, batik bukan hanya berasal dari coretan canting. Bukan pula dari tetesan malam. Tapi dari butiran keringat sang pelukis. Dari keinginan dan tekad yang besar untuk duduk berjam-jam dengan tekun dan sabar. Dari lepuhan kulit yang terkena minyak panas. Dari sana, lahirlah sebuah kain. Tidak besar, tidak megah. Tapi cukup untuk melukiskan sebuah identitas. Bahwa negeri ini ada dan punya identitasnya sendiri.

Mimpi Eros dan Aga akhirnya terwujud lima tahun yang lalu. Sebuah galeri kecil bertajuk “Batik Batavia” lahir. Mereka merintis dari nol. Dari dua hingga hampir lima puluh pekerja. Eros dan Aga lama kelamaan tinggal sepasang rekan bisnis. Salahkan kenalan yang makin lama makin tak terhitung. Salahkan semangat bisnis yang tak kunjung padam. Itu juga alasan di balik kalimat Aga setelah ini.

“Kita bangkrut.” Tembaknya.
Eros sudah bisa menebak berita itu. Kalimat Aga hanya sebuah perwakilan. Karena Eros sendiri tak akan sanggup mengucapkan dua kata sial itu. Tapi sementara Aga sudah memiliki banyak usaha lain, Eros hanya menggantungkan pencahariannya pada Batik Batavia. Disanalah cintanya.

Aga menepuknya di bahu sebelum meninggalkannya bersama secangkir kopi. Tidak. Eros belum mau meninggalkan tempat ini. Ia akan membiarkan kesedihannya larut bersama kopi-kopinya. Untuk apa ia pulang? Ia hancur. Kehancuran adalah rumahnya yang baru. Ia tiba-tiba teringat akan Kirana. Satu-satunya cinta selain Batik Batavia. Namun nasib sepertinya bersekongkol menyiksa Eros.

Ketika Batik Batavia baru didirikan, Kirana adalah rekan pertamanya setelah Aga. Eros memang sudah lama mengenalnya. Pada sebuah pameran batik di Solo. Mereka bertukar kartu nama. Namun baru dua tahun kemudian Eros teringat untuk menghubunginya. Entah siapa yang memantrai, keduanya tiba-tiba saling mengungkap cinta di sebuah kedai kopi. Ya, disini. Namun ternyata memang Eros belum ditakdirkan untuk bahagia. Suatu malam, ia hendak memberi kejutan untuk Kirana dengan mendatangi apartmentnya. Aneh, pintunya tidak dikunci. Ia masuk ke dalam dan langsung tersedak minuman yang ketika itu dibawanya. Ia tak akan melupakan apa yang dilihatnya malam itu. Ketika ia mendapati Kirana sedang asyik bercumbu dengan orang lain. Dengan PEREMPUAN lain. Keesokan harinya Kirana menjelaskan bahwa ia seorang lesb*an. Dan memacari Eros hanya untuk menutupi kemungkinan dicurigai orang lain. Eros melangkah pergi saat itu juga.

Kembali ke sore ini. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Awan memenuhi janjinya. Hujan turun sangat deras, membangkitkan kesedihan. Eros memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Ketika ia berada di ambang pintu, ia memutar balikkan badannya. Menghadap orang-orang yang sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Lihat sekelompok remaja di pojok sana. Menertawakan entah apa sambil menunjuk-nunjuk. Apakah cara berpakaian seseorang? Atau sebuah tingkah konyol ulah salah satu dari mereka kah? Lalu liat sepasang kakek nenek di tengah sana. Memandang sinis ke arah satu sama lain. Apa kira-kira masalah suami istri yang sudah renta seperti itu? Perbedaan pendapat menentukan tempat kuliah si bungsi mungkin. Mereka semua terlihat ‘biasa’. Dan mereka juga pasti melihat Eros sesosok yang juga ‘biasa’. Hanya bisa menerka-nerka apa yang ada dalam pikirannya. Mereka tak akan bisa menebak apa yang akan ia lakukan setelah ini.

Ia mundur selangkah.. dua langkah.. tiga langkah. “BRAKK!!”. Tepat sasaran. Ia sempat melihat sekelompok remaja tadi menoleh kaget kearahnya sebelum badannya menghempas aspal. Ia tersenyum seraya merasakan seluruh badannya remuk. Ia masih sempat merasakan tubuhnya dikerumuni banyak orang. Tapi hal terakhir yang diingatnya adalah seorang wanita menyeruak di antara kerumunan itu dan berteriak disampingnya.

“Ros!! Eros!! Sadar!! Kamu gak bangkrut! Dan aku bukan seorang lesb*an! Aku dan Aga yang mengatur semua ini.. untuk.. ulang tahunmu..” Kirana. Suaranya melemah di akhir kalimat. Namun Eros memejamkan matanya. Dan ia tidak kunjung membukanya kembali

 

http://cerpenmu.com/cerpen-kehidupan/rahasia-di-balik-rintik-hujan.html.